Volume pengguna KRL Commuter Line di seluruh lintas Jabodetabek tercatat mengalami lonjakan signifikan hingga Minggu (26/4/2026). Tren kenaikan ini didorong oleh perbaikan layanan, penambahan kapasitas, serta kemudahan perpindahan antarmoda yang membuat mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien.
Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Finance, lintas Bogor mencatatkan pertumbuhan penumpang dari 102.054.022 orang pada 2022 menjadi 155.009.997 orang pada 2025. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, jumlah pengguna di jalur tersebut telah menyentuh angka 38.203.481 penumpang.
Kenaikan serupa juga terjadi di lintas Cikarang yang melayani 21.717.664 penumpang pada tiga bulan pertama 2026, setelah sebelumnya mencatat 85.936.774 pengguna pada 2025. Angka ini naik drastis dibandingkan capaian tahun 2022 yang berjumlah 55.660.235 penumpang.
Di lintas Rangkasbitung, pertumbuhan konsisten terlihat dari angka 43.317.716 pengguna pada 2022 menjadi 77.552.716 pada 2025. Untuk periode Januari hingga Maret 2026, lintas ini telah melayani sebanyak 20.197.205 penumpang.
Sektor lintas Tangerang dan Tanjung Priok juga menunjukkan tren positif dalam periode yang sama. Lintas Tangerang melayani 6.987.364 pengguna di awal 2026, sementara lintas Tanjung Priok mencatat 873.658 pelanggan pada kuartal pertama tahun ini.
"Pilihan menggunakan transportasi publik muncul karena layanan memberi kemudahan, keterjangkauan, kepastian, dan rasa aman," ujar Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI. Penegasan ini merujuk pada perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih mengandalkan angkutan umum.
Anne menambahkan bahwa peralihan moda transportasi ini berdampak positif pada penurunan kepadatan lalu lintas dan risiko kecelakaan di jalan raya. Selain itu, berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi turut membantu perbaikan kondisi lingkungan melalui penurunan polusi udara.
Infrastruktur transportasi yang terintegrasi dinilai menjadi kunci utama dalam membentuk kebiasaan masyarakat untuk beralih ke transportasi publik secara berkelanjutan. Efisiensi biaya dari tarif yang terjangkau juga memberikan ruang bagi warga untuk mengalokasikan pengeluaran ke sektor produktif lainnya.