Penyusutan Air Danau Toba Ancam Kematian Massal Ikan Keramba

Muka air Danau Toba susut 1,6 meter hingga April 2026, memicu risiko kematian massal ikan akibat fenomena hidrologi dan cuaca ekstrem.

Penurunan muka air Danau Toba setinggi 1,6 meter yang tercatat sejak Juni 2025 hingga Rabu, 22 April 2026, mengancam keberlangsungan sektor perikanan budi daya keramba jaring apung (KJA). Fenomena hidrologi ini diprediksi kian memburuk akibat potensi musim kemarau panjang yang dipicu El Nino.

Data satelit altimetri menunjukkan penyusutan volume air danau berpotensi terus berlanjut hingga menyentuh angka 2 meter jika curah hujan tetap rendah. Kondisi ini dilaporkan dapat memicu kematian massal ikan secara mendadak bagi para pembudi daya di kawasan tersebut.

Dilansir dari Medcom, Ahli Penginderaan Jauh Satelit IPB University, Jonson Lumban Gaol, menjelaskan bahwa kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif pada 2026 mempercepat penguapan air. Hal ini berkaca pada insiden serupa tahun 2016 yang memusnahkan ribuan ton ikan.

Risiko kematian ikan muncul saat cuaca ekstrem dan angin kencang mengaduk sedimen limbah organik di dasar perairan yang dangkal. Proses ini menyebabkan sedimen halus naik dan menyumbat insang ikan, sekaligus menurunkan kadar oksigen terlarut secara drastis.

"Kombinasi antara rendahnya oksigen, tingginya kandungan gas beracun, dan meningkatnya kekeruhan air menjadi penyebab kematian massal ikan di KJA," ujar Jonson Lumban Gaol, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University.

Penumpukan limbah rumah tangga di dasar danau juga memicu pelepasan gas berbahaya seperti hidrogen sulfida dan metana saat kondisi anaerobik terjadi. Gas-gas tersebut secara langsung merusak sistem pernapasan ikan dan memperburuk kualitas air di sekitar lokasi budi daya.

Nelayan setempat diimbau untuk segera memindahkan keramba ke area perairan yang lebih dalam atau melakukan panen dini jika melihat tanda-tanda air mulai mengeruh. Pemerintah daerah diharapkan segera membangun sistem peringatan dini yang lebih akurat guna meminimalkan kerugian ekonomi sektor perikanan.

Recommended