David Sacks, tokoh di balik AI dan kripto Gedung Putih, menyampaikan peringatan terkait potensi dampak dari perang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, konflik tersebut dapat memicu bencana, terutama jika Iran menyerang infrastruktur minyak dan gas di Timur Tengah.
Dalam sebuah episode podcast All In, Sacks menekankan perlunya pemerintah AS mencari solusi untuk menghindari eskalasi konflik. Ia mengkhawatirkan bahwa Iran dapat menargetkan fasilitas desalinasi air, yang vital bagi penyediaan air bersih di kawasan tersebut, sehingga memicu krisis kemanusiaan yang lebih besar.
Meskipun pernah bekerja di pemerintahan Trump, Sacks tetap aktif di sektor swasta dan memiliki kepentingan finansial dalam mengakhiri perang. Ia berpendapat bahwa pasar akan merespons positif terhadap deeskalasi.
Perang ini juga mengancam industri AI yang menjadi fokus Sacks di Gedung Putih. Serangan drone Iran telah memaksa QatarEnergy untuk menghentikan produksi gas alam cair (LNG) dan helium sejak awal Maret.
Menurut Bloomberg, QatarEnergy menyumbang sepertiga dari pasokan helium dunia, yang sangat penting untuk manufaktur elektronik dan semikonduktor. Ahli ekonomi Andreas Steno Larsen juga menyatakan bahwa perang ini dapat menghambat perkembangan AI, seperti yang dilaporkan oleh The Verge, Selasa (17/3/2026).
Timur Tengah semakin penting bagi perusahaan teknologi yang ingin membangun infrastruktur untuk mendukung perkembangan pesat industri AI.
Oracle, Nvidia, dan Cisco terlibat dalam proyek kampus AI milik OpenAI di Uni Emirat Arab. Kampus bernama Stargate itu akan dibangun di lahan seluas 25,8 kilometer persegi dan didukung tenaga listrik berkapasitas 5 gigawatt.
Di Arab Saudi, perusahaan Humain menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun infrastruktur AI. Selain itu, Microsoft juga berencana menginvestasikan USD 15 miliar di Uni Emirat Arab hingga tahun 2029.