Konflik di Timur Tengah, melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, telah menyebabkan disrupsi signifikan pada rantai pasokan energi dunia. Negara-negara kini dihadapkan pada pilihan sulit: menanggung biaya energi yang lebih tinggi atau mengurangi tingkat konsumsi.
Terganggunya jalur perdagangan energi utama, seperti Selat Hormuz, menjadi salah satu dampak utama dari konflik ini. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur strategis ini.
Serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk kilang minyak dan gas, semakin memperburuk situasi, menyebabkan penurunan pasokan energi global secara keseluruhan. Akibatnya, harga energi mengalami lonjakan sekitar 50%, dengan harga minyak mentah acuan menembus US$ 110 per barel, dan beberapa jenis minyak Timur Tengah bahkan mencapai hampir US$ 164 per barel.
Badan Energi Internasional (IEA) menggambarkan krisis ini sebagai gangguan energi paling parah dalam sejarah, bahkan melampaui dampak embargo minyak pada tahun 1970-an.
Kepala investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering, menyatakan, "Anda tidak akan bisa mengatasi ini hanya dengan upaya penghematan. Yang akan terjadi adalah kenaikan harga yang cukup tinggi sehingga orang-orang berhenti mengonsumsi," dikutip dari Reuters, Minggu (22/3/2026).
Beberapa negara telah mencoba meredam kenaikan harga dengan melepaskan cadangan minyak darurat mereka, yang mencapai total ratusan juta barel. Namun, analis berpendapat bahwa langkah ini tidak akan cukup untuk mengatasi kekurangan pasokan jika konflik terus berlanjut.
Melambungnya harga energi mendorong banyak pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah penghematan energi, seperti mengurangi penggunaan listrik dan bahan bakar, mempromosikan transportasi umum, dan membatasi konsumsi energi industri.
Sebagai contoh, Thailand telah menginstruksikan pegawai negeri sipil untuk berhemat energi dengan menangguhkan perjalanan dinas ke luar negeri dan menggunakan tangga sebagai pengganti lift.
Bangladesh telah menutup kampus-kampusnya, sementara Sri Lanka menerapkan penjatahan bahan bakar. China telah melarang ekspor bahan bakar olahan, dan rencana darurat energi pemerintah Inggris mencakup pengurangan batas kecepatan untuk menghemat bahan bakar. Banyak negara juga menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau mana saja untuk menghemat penggunaan BBM.
Krisis energi ini juga memberikan efek domino ke berbagai sektor lainnya. Terganggunya perdagangan pupuk, yang sebagian besar melewati wilayah Teluk, telah menyebabkan harga pupuk melonjak 30-40% dan memaksa penghentian produksi di beberapa negara. Kondisi ini berpotensi menurunkan hasil panen global dan memperburuk masalah pasokan pangan dunia.
Konflik ini juga mengganggu rantai pasokan penting lainnya, seperti helium, obat-obatan, dan pengiriman logistik, yang berpotensi menekan sektor industri dan meningkatkan harga barang bagi konsumen.