Perempuan Pimpin Hampir 30% Universitas Terbaik Dunia

Peningkatan kepemimpinan perempuan di universitas terkemuka mencapai 29%, tertinggi dalam sejarah. Simak daftar 10 universitas terbaik yang dipimpin perempuan.

Peningkatan representasi perempuan pada posisi puncak di dunia akademik terus berlanjut. Hampir tiga dari sepuluh universitas terbaik di dunia kini memiliki rektor atau presiden perempuan, menandai rekor tertinggi yang pernah ada.

Data ini muncul menjelang Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret, menunjukkan kemajuan dalam kesetaraan gender di pendidikan tinggi. Sebanyak 58 dari 200 universitas teratas dalam THE World University Rankings 2026 (sekitar 29%) dipimpin oleh perempuan.

Angka ini naik dari 27% pada tahun sebelumnya, menjadi peningkatan ketujuh berturut-turut. Pada tahun 2019, hanya 17% atau 34 universitas yang dipimpin oleh perempuan.

Profesor Elisabeth Kelan dari King’s Business School menyebut data ini sebagai tonggak penting menuju kesetaraan gender di pendidikan tinggi. "Ini penting secara simbolis. Namun angka saja tidak berarti praktik dan budaya di dalam universitas bergeser pada kecepatan yang sama, dan perubahan tetap tidak merata," kata Kelan dikutip dari laman Times Higher Education, Jumat, 6 Maret 2026.

Berikut adalah daftar 10 universitas terbaik dunia yang dipimpin oleh rektor atau presiden perempuan pada tahun 2026:

  1. University of Oxford – Inggris, dipimpin oleh Irene Tracey (Peringkat 1)
  2. Massachusetts Institute of Technology (MIT) – Amerika Serikat, dipimpin oleh Sally Kornbluth (Peringkat 2)
  3. University of Cambridge – Inggris, dipimpin oleh Deborah Prentice (Peringkat 3)
  4. Yale University – Amerika Serikat, dipimpin oleh Maurie McInnis (Peringkat 10)
  5. Columbia University – Amerika Serikat, dipimpin oleh Claire Shipman selaku penjabat presiden (Peringkat 20)
  6. University of Toronto – Kanada, dipimpin oleh Melanie Woodin (Peringkat 21)
  7. New York University – Amerika Serikat, dipimpin oleh Linda Mills (Peringkat 31)
  8. École Polytechnique Fédérale de Lausanne – Swiss, dipimpin oleh Anna Fontcuberta i Morral (Peringkat 35)
  9. KU Leuven – Belgia, dipimpin oleh Severine Vermeire (Peringkat 46)
  10. Universität Heidelberg – Jerman, dipimpin oleh Frauke Melchior (Peringkat 49).

Dari 28 negara dengan universitas di daftar 200 besar, 11 di antaranya belum memiliki pemimpin perempuan. Tiongkok, dengan 13 universitas dalam daftar, menjadi sorotan karena tidak ada satu pun yang dipimpin oleh perempuan.

Di Amerika Serikat, 15 dari 55 universitas berperingkat tinggi (sekitar 27%) dipimpin perempuan, sedikit turun dari tahun sebelumnya. Angka ini masih di bawah Inggris (31%), Jerman (33%), Australia (40%), dan Belanda (55%).

Dari 33 universitas di Inggris yang mengganti pimpinan dalam setahun terakhir, 12 (36%) memilih perempuan. Perubahan pimpinan di universitas top relatif sedikit. Hanya 11 dari 50 universitas teratas (22%) yang berganti pemimpin, dengan satu perubahan di antara 20 besar. Columbia University dan University of Toronto, dua institusi dengan peringkat tertinggi yang berganti pimpinan, keduanya memilih pemimpin perempuan.

Kelan mengingatkan untuk tidak hanya fokus pada angka. Menurutnya, posisi kepemimpinan semakin kompleks dan perempuan sering ditunjuk saat institusi menghadapi tantangan terberat.

Hal ini menciptakan ekspektasi khusus bagi pemimpin perempuan. Profesor Christine Min Wotipka dari Stanford University menyebut data ini sebagai alasan untuk bersyukur namun tetap waspada.

Wotipka menekankan bahwa ada banyak perempuan yang mampu memimpin universitas. Ia menambahkan, institusi tidak perlu menunda memberikan kesempatan tersebut.

“Pada saat yang sama, penting untuk menentukan apakah ada aspek dalam peran tersebut yang membuatnya terasa sangat tidak ramah bagi perempuan. Selain itu, perlu juga dilihat apakah mereka ditempatkan pada situasi yang dikenal sebagai “glass cliff”, mengingat kondisi yang dihadapi sejumlah institusi,” ujar Wotipka.

Recommended