Sejumlah jaringan penting di Amerika Serikat (AS), termasuk sistem bank dan bandara, dilaporkan menjadi target penyusupan kelompok peretas yang diduga memiliki hubungan dengan pemerintah Iran. Serangan siber ini dilakukan dengan cara menanamkan backdoor atau akses tersembunyi.
Akses tersembunyi ini memungkinkan pelaku kejahatan siber untuk memantau sekaligus mengendalikan sistem korban dari jarak jauh.
Informasi ini terungkap dari artikel yang dipublikasikan oleh media teknologi keamanan The Register. Serangan tersebut dikaitkan dengan kelompok peretas bernama MuddyWater, yang menurut detikINET (9/3/2026), berafiliasi dengan Ministry of Intelligence and Security Iran (MOIS).
Para peneliti keamanan siber mengungkapkan bahwa kelompok tersebut menggunakan malware khusus untuk menanamkan akses tersembunyi pada sistem korban. Backdoor ini memungkinkan peretas untuk mencuri data, mengunduh atau mengunggah file, dan mempertahankan akses jangka panjang ke jaringan yang telah disusupi.
Target serangan tidak terbatas pada satu sektor saja. Indikasi penyusupan juga ditemukan pada jaringan bandara, perusahaan perangkat lunak yang terkait dengan industri pertahanan di Israel, serta organisasi non-pemerintah di Amerika Utara, selain jaringan bank di Amerika Serikat.
Peneliti keamanan menemukan dua jenis backdoor baru yang ditanamkan pada sistem korban. Salah satunya adalah Dindoor, yang dipakai untuk mempertahankan akses ke jaringan yang sudah disusupi. Selain itu, ditemukan juga backdoor lain bernama Fakeset pada jaringan sebuah bandara di Amerika Serikat.
Aktivitas serangan ini diperkirakan telah dimulai sejak awal 2026. Peneliti berpendapat, penanaman backdoor tersebut kemungkinan merupakan bagian dari strategi "pre-positioning", yaitu menempatkan akses tersembunyi pada sistem target sebelum konflik geopolitik meningkat.
MuddyWater dikenal sebagai salah satu aktor siber yang aktif melakukan operasi spionase digital terhadap berbagai sektor strategis. Sejak sekitar tahun 2017, kelompok ini kerap menargetkan pemerintah, sektor telekomunikasi, lembaga keuangan, serta infrastruktur penting di berbagai negara.
Keberadaan backdoor pada jaringan kritikal dapat menimbulkan risiko keamanan serius. Para peneliti memperingatkan bahwa selain memungkinkan pencurian data, akses tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk operasi siber lanjutan, termasuk sabotase sistem atau pengumpulan intelijen jangka panjang.