Pertamina Berdayakan Ratusan Perempuan Lewat Program TJSL

Pertamina Patra Niaga memberdayakan 695 perempuan melalui program TJSL di 49 lokasi, memberikan pendampingan ekonomi dan sosial.

Sebanyak 695 perempuan di berbagai wilayah Indonesia menerima pendampingan ekonomi dan sosial melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang dilaksanakan di 49 titik. Program ini bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan dengan memberikan ruang belajar, penguatan kapasitas, dan peluang usaha.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, menyampaikan bahwa pemberdayaan perempuan adalah bagian penting dari TJSL perusahaan. Hari Perempuan Internasional menjadi momentum untuk mengingat peran penting perempuan dalam pembangunan berkelanjutan.

"Pemberdayaan perempuan merupakan bagian integral dari pelaksanaan TJSL Pertamina Patra Niaga. Kami percaya, ketika perempuan diberi akses terhadap ruang belajar, peluang usaha, dan penguatan kapasitas, dampaknya akan langsung terasa pada ketahanan ekonomi keluarga dan komunitas secara luas," ujar Roberth.

Salah satu contoh program pemberdayaan adalah inisiatif PUANMAKARI (Perempuan Mandiri, Anak Percaya Diri) yang dijalankan melalui Integrated Terminal Makassar. Awalnya, program ini berupa shelter bagi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), namun kemudian berkembang menjadi ruang pemberdayaan perempuan dan anak.

Program ini menjadi unggulan di Sulawesi dan meraih PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2023 dan 2024. Melalui program ini, 103 perempuan dan 230 anak telah menerima pendampingan.

Shelter serta kurikulum pemberdayaan telah berhasil dibentuk. Selain itu, 36 perempuan dan remaja perempuan berkembang melalui berbagai usaha produktif. Dari sisi ekonomi, Sekolah Anak Percaya Diri mencatat peningkatan pendapatan sebesar Rp 51.984.000, sedangkan Kelompok Srikandi menghasilkan pendapatan Rp 86.640.000 dari aktivitas usaha yang dijalankan.

Wahida Rahman, salah satu orang tua murid Sekolah Anak Percaya Diri, merasakan dampak positif dari program ini. "Anak saya dulu pendiam dan tertutup. Sekarang dia lebih kreatif dan sopan kepada orang tua. Semoga program ini terus berlanjut dengan pembelajaran yang semakin berkualitas," ungkap Wahida.

Inisiatif RAWABENING di Kampung Atas Air

Program pemberdayaan lain berfokus pada pemanfaatan air hujan untuk urban farming berbasis hidroponik, yaitu inisiatif RAWABENING (Rain Water Harvesting and Urban Farming) di Kampung Atas Air.

Program ini berhasil mengembangkan 10 meja hidroponik dengan 440 lubang tanam yang menghasilkan sekitar 8.900 bibit sayuran. Sistem pemanenan air hujan yang diterapkan mampu menghemat penggunaan air hingga 92.400 liter per tahun.

Kelompok perempuan dalam program ini juga mengembangkan tiga produk olahan sayuran yang memberikan nilai tambah ekonomi. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pendapatan rata-rata anggota hingga 20,5% dengan pendapatan sekitar Rp 122.601 setiap panen.

Dukungan Kesehatan untuk Perempuan di Raja Ampat

Selain pemberdayaan ekonomi, Pertamina juga memberikan dukungan pada sektor kesehatan perempuan melalui program Rumah Sakit Kapal di Waigeo Utara, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Program ini menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan akses fasilitas medis.

Layanan kesehatan yang diberikan menjangkau 726 perempuan dewasa melalui Poli Umum serta 145 perempuan dewasa melalui Poli Gigi. Kapasitas tenaga kesehatan perempuan juga diperkuat melalui pelatihan bagi 8 bidan dalam layanan Antenatal Care (ANC) serta 4 bidan dalam pelatihan USG dasar.

Program rumah sakit kapal ini memungkinkan perempuan di wilayah kepulauan mendapatkan layanan kesehatan seperti pemeriksaan kandungan, USG, hingga persalinan tanpa perlu menempuh perjalanan laut yang memakan waktu 4 hingga 5 jam ke fasilitas kesehatan di kota.

Recommended