Kredit Investasi Perbankan Tumbuh 20,85 Persen pada Maret 2026

Bank Indonesia mencatat lonjakan kredit investasi sebesar 20,85 persen pada Maret 2026 di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik global.

Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan kredit investasi sebesar 20,85 persen secara tahunan (yoy) pada Sabtu, 2 Mei 2026, meski situasi geopolitik di Timur Tengah masih dalam tensi tinggi. Capaian ini melampaui pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan yang tercatat sebesar 9,49 persen pada periode Maret 2026.

Data yang dilansir dari Detik Finance menunjukkan tren positif dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2026 yang berada di angka 9,37 persen. Selain investasi, kredit konsumsi tumbuh 5,88 persen dan kredit modal kerja meningkat 4,38 persen pada periode yang sama.

Ekonom Senior Indef Tauhid Ahmad menjelaskan bahwa pelaku usaha lebih memilih mengalokasikan dana ke aset tetap daripada membiarkan modal menganggur di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, investasi saat ini lebih banyak terserap pada sektor jasa, bangunan, lahan, hingga toko ritel.

"Dalam situasi seperti sekarang, uang yang ada daripada menganggur dan kondisi belum pasti, mereka memilih investasi saja," kata Tauhid Ahmad, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Tauhid memberikan catatan bahwa pemerintah perlu mendorong kredit investasi ke sektor manufaktur dan industri untuk memberikan dampak ekonomi yang lebih kuat. Ia menilai insentif di kawasan industri harus ditingkatkan agar lebih menarik bagi para investor dibandingkan area luar kawasan.

Sementara itu, Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menyebutkan bahwa proyek hilirisasi sumber daya alam, seperti nikel dan tembaga, menjadi motor utama kenaikan kredit investasi. Faktor lain adalah peluang relokasi industri dari negara lain ke Indonesia serta kondisi likuiditas perbankan yang masih longgar.

Meski investasi meningkat, Yusuf menyoroti pertumbuhan rendah pada kredit modal kerja dan konsumsi sebagai sinyal bahwa aktivitas produksi dan permintaan domestik belum sepenuhnya pulih. Pelaku usaha dinilai masih bersikap menunggu (wait and see) untuk melakukan ekspansi produksi secara agresif.

Bank Indonesia memperkirakan total pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 akan tetap terjaga pada kisaran 8 hingga 12 persen. Proyeksi ini didasarkan pada stabilitas sisi penawaran perbankan dan permintaan dari sektor riil.

Recommended