PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 40 persen menjadi USD43,899 juta pada laporan keuangan kuartal pertama yang berakhir 31 Maret 2026. Capaian ini menunjukkan penguatan posisi keuangan perusahaan di tengah upaya akselerasi transisi energi nasional.
Kenaikan laba bersih tersebut didorong oleh perolehan pendapatan perusahaan yang mencapai USD116,555 juta, atau tumbuh 14,8 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini merupakan hasil dari kombinasi efisiensi operasional serta strategi bisnis yang matang, sebagaimana dilansir dari Medcom.
Direktur Keuangan PGEO, Fransetya Hutabarat, menjelaskan bahwa perusahaan secara konsisten menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kesehatan finansial. Ia menekankan pentingnya arus kas operasional yang kuat untuk mendukung rencana ekspansi jangka panjang di sektor panas bumi.
Data keuangan menunjukkan posisi fundamental PGEO yang semakin kokoh dengan total aset mencapai USD3,06 miliar per Maret 2026. Sementara itu, ekuitas perusahaan meningkat menjadi USD2,09 miliar yang dibarengi dengan penurunan liabilitas atau kewajiban keuangan.
"Ketegangan geopolitik dan krisis energi global justru memperkuat urgensi pengembangan energi domestik yang berkelanjutan," kata Ahmad Yani, Direktur Utama PGE. Menurutnya, panas bumi merupakan sumber energi paling stabil dan minim emisi yang menjadi peluang strategis bagi perusahaan.
PGE saat ini mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 MW, atau setara dengan 70 persen total kapasitas nasional. Perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas menjadi 1 GW pada 2028 dan diproyeksikan menyentuh 1,8 GW pada 2034 mendatang.
Target ambisius tersebut sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang mematok porsi energi baru terbarukan sebesar 76 persen. Di sisi keberlanjutan, PGEO meraih skor ESG 7,1 dari Sustainalytics dan masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025.