PT PLN (Persero) resmi memasok listrik hijau untuk mendukung operasional tambang yang rendah emisi melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) pada Rabu, 22 April 2026. Langkah strategis ini bertujuan mewujudkan transformasi sektor pertambangan yang ramah lingkungan atau green mining di Indonesia.
Dilansir dari Medcom, kerja sama PJBTL dan Nota Kesepahaman (MoU) Integrated Business Solution ini melibatkan enam perusahaan batu bara besar dengan total kapasitas daya mencapai ratusan megavolt ampere (MVA). PT Makmur Sejahtera Wisesa menjadi mitra dengan daya terbesar yakni 106 MVA.
Perusahaan lain yang terlibat dalam kesepakatan ini mencakup PT Maruwai Coal sebesar 71 MVA, PT Sembada Makmur Sejahtera 55 MVA, dan PT Marga Bara Jaya 35 MVA. Selain itu, PT Trubaindo Coal Mining dan PT Berau Coal masing-masing menyepakati pasokan sebesar 30 MVA dan 29 MVA.
Pemanfaatan listrik untuk alat berat diklaim menjadi solusi krusial dalam menekan emisi karbon di wilayah pertambangan. Koordinator Konservasi dan Mineral Batu Bara Kementerian ESDM, Ari Hendrawanto, menjelaskan bahwa sektor pengangkutan dan pemindahan material menyumbang konsumsi energi terbesar.
"Elektrifikasi alat berat menjadi salah satu solusi utama, mengingat konsumsi energi terbesar berada pada kegiatan pengangkutan dan pemindahan material," ujar Ari Hendrawanto, Koordinator Konservasi dan Mineral Batu Bara Kementerian ESDM.
Selain dampak lingkungan, transisi ke energi listrik memberikan keuntungan finansial signifikan bagi industri. Berdasarkan perbandingan harga diesel saat ini, penggunaan listrik berpotensi menghemat biaya operasional hingga Rp2 miliar per tahun untuk setiap unit alat berat yang digunakan.
Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero), Adi Priyanto, menegaskan bahwa dukungan ini merupakan strategi memperkuat kemandirian energi nasional. PLN berkomitmen menyediakan layanan inovatif yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan spesifik operasional di area tambang.
Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Priyadi, menilai sinergi ini menciptakan simbiosis mutualisme bagi produsen batu bara dan penyedia listrik. Upaya ini diharapkan mampu memperpendek rantai pasok energi fosil impor demi keberlanjutan industri pertambangan nasional ke depan.