Populasi manusia di Bumi kini disebut-sebut telah melampaui kemampuan planet untuk menopang kehidupan secara berkelanjutan. Temuan ini diungkapkan dalam sebuah studi terbaru yang menyoroti bagaimana pola konsumsi sumber daya saat ini jauh melampaui batas keberlanjutan alam.
Penelitian yang dipimpin oleh Corey Bradshaw, seorang profesor ekologi global di Flinders University, menunjukkan bahwa manusia hidup di luar 'daya dukung lingkungan'. Konsep ini mengacu pada jumlah maksimum populasi yang dapat bertahan hidup dengan sumber daya yang tersedia dalam jangka panjang, seperti dikutip dari Detik iNET.
Teknologi, khususnya pemanfaatan bahan bakar fosil, telah mendorong batas daya dukung ini. Namun, para peneliti memperingatkan bahwa kondisi ini hanya bersifat sementara. Penggunaan energi dan sumber daya saat ini dinilai tidak seimbang dengan kapasitas alam untuk melakukan pemulihan.
"Bumi tidak mampu mengimbangi cara kita menggunakan sumber daya. Bumi bahkan tidak dapat memenuhi permintaan saat ini tanpa perubahan besar, dan temuan kami menunjukkan bahwa kita membebani planet ini melebihi kemampuannya," kata Bradshaw.
Menurut laporan Science Alert pada Rabu (8/4/2026), populasi global telah mencapai sekitar 8,3 miliar jiwa. Angka ini jauh melampaui perkiraan populasi ideal yang dianggap berkelanjutan oleh para ilmuwan. Studi tersebut menyarankan populasi optimal hanya sekitar 2,5 miliar orang untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kemampuan alami planet.
Proyeksi menunjukkan bahwa populasi global akan terus meningkat, dengan potensi mencapai puncaknya antara 11,7 hingga 12,4 miliar pada akhir abad ini jika tren konsumsi dan pertumbuhan saat ini berlanjut.
Permasalahan utama bukan hanya pada jumlah populasi, tetapi juga pada pola konsumsi. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil telah memungkinkan pertumbuhan populasi yang cepat, namun di sisi lain turut mempercepat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.