Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi fenomena iklim El Nino akan mulai berkembang pada pertengahan tahun 2026 dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah modern. Perubahan pola cuaca ini diperkirakan akan memicu suhu ekstrem dan pergeseran curah hujan di berbagai belahan dunia secara signifikan.
Kenaikan suhu permukaan laut yang berlangsung cepat menjadi indikator utama intensifikasi fenomena ini dalam beberapa bulan ke depan. Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, para ahli mewaspadai munculnya kategori Super El Nino yang dapat mengacaukan sistem iklim global akibat pelepasan panas besar-besaran dari Samudra Pasifik.
Dampak dari anomali ini diprediksi mencakup gelombang panas yang lebih intens, kekeringan parah di wilayah tertentu, hingga banjir dahsyat akibat meningkatnya kelembapan udara. Di kawasan Amerika Serikat, musim panas tahun ini diperkirakan akan jauh lebih panas dibandingkan rata-rata tahunan biasanya.
"Saya rasa kita akan menyaksikan peristiwa cuaca yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern," ujar Jeff Berardelli, Chief Meteorologist and Climate Specialist WFLA-TV. Penegasan ini didasarkan pada pergerakan panas di bawah permukaan Pasifik yang mulai naik ke permukaan menuju arah timur.
Kondisi ini juga dikhawatirkan memperparah degradasi hutan di wilayah Amazon yang saat ini sudah mencapai 40 persen akibat kebakaran dan pembalakan liar. Fenomena El Nino yang kuat cenderung menekan musim badai di Atlantik karena dominasi panas di Pasifik, namun menyebabkan wilayah Karibia mengalami kekeringan ekstrem.
Ilmuwan iklim dari California Institute for Water Resources, Daniel Swain, menyatakan bahwa indikator saat ini menunjukkan tahun depan akan menjadi periode yang sangat fluktuatif bagi iklim global. Peningkatan panas permukaan akibat El Nino yang berpadu dengan perubahan iklim diprediksi akan menciptakan rekor suhu panas baru secara global.
Meskipun demikian, Michael Mann dari University of Pennsylvania menyebutkan bahwa fenomena ini merupakan situasi impas karena biasanya akan diikuti oleh fase La Nina. Siklus tersebut nantinya akan kembali menurunkan suhu global dalam periode satu hingga dua tahun setelah masa El Nino berakhir.