Aliansi vaksin dunia Gavi melalui platform VaccinesWork memperingatkan potensi Hantavirus menjadi ancaman kesehatan global dan pandemi masa depan pada Kamis (7/5/2026). Kewaspadaan ini didasarkan pada deteksi kasus penularan antarmanusia yang mulai ditemukan di beberapa wilayah Amerika Selatan.
Dilansir dari Detik iNET, Hantavirus merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang umumnya menyebar dari hewan pengerat ke manusia melalui udara yang terkontaminasi kotoran. Namun, laporan Gavi menyoroti adanya evolusi pada virus Andes di Argentina dan Chile yang menunjukkan kemampuan transmisi antarmanusia.
"Epidemics of person-to-person transmission of the Andes virus in Argentina and Chile indicate it can evolve to sustain human-to-human transmission," tulis VaccinesWork dalam laporan yang telah dipublikasikan sejak lima tahun lalu tersebut.
Kekhawatiran terhadap virus ini sudah muncul sejak April 1993 saat wabah misterius menyerang wilayah Four Corners di Amerika Serikat. Penyelidikan kala itu berhasil mengidentifikasi spesies baru bernama Sin Nombre Virus yang memicu peningkatan perhatian dunia terhadap evolusi Hantavirus.
Gavi membedakan ancaman ini menjadi dua kategori, yakni tipe Old World di Eropa dan Asia yang menyebabkan HFRS serta tipe New World di Amerika yang memicu HPS. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dinilai jauh lebih mematikan karena memiliki tingkat kematian mencapai 35-50 persen.
Hantavirus memiliki masa inkubasi yang cukup panjang selama dua hingga empat minggu, sehingga memungkinkan seseorang menyebarkan virus sebelum gejala muncul. Gejala awal biasanya menyerupai flu biasa namun dapat berkembang menjadi gagal ginjal hingga penumpukan cairan di paru-paru.
Hingga saat ini, belum ada vaksin Hantavirus yang tersedia secara luas di tingkat global untuk menangani kasus HPS. Korea Selatan dan China telah menggunakan vaksin untuk tipe HFRS sejak 1990, meski efektivitasnya masih dianggap belum cukup kuat oleh para ahli kesehatan.
Penanganan medis bagi pasien sejauh ini masih bersifat suportif dengan bantuan alat ventilator dan pemberian obat antivirus ribavirin. Gavi menekankan pentingnya pengawasan genomik untuk memantau mutasi virus serta menghindari kontak langsung dengan lingkungan yang terinfeksi tikus.