Ilmuwan memperingatkan potensi kemunculan fenomena Super El Nino yang mengancam suhu global pada Senin, 27 April 2026, setelah mencatat tiga bulan pertama tahun ini sebagai periode terpanas keempat sepanjang sejarah. Pemanasan ekstrem di Pasifik tropis tersebut diprediksi akan memicu lonjakan suhu signifikan yang melampaui rekor sebelumnya.
Analisis dari situs lingkungan Carbon Brief menunjukkan bahwa tahun 2026 memiliki peluang sebesar 19 persen untuk melampaui tahun 2024 sebagai tahun terpanas. Data yang dihimpun dari lima kelompok riset berbeda ini mengindikasikan bahwa tahun ini hampir pasti menjadi salah satu dari empat tahun dengan suhu tertinggi yang pernah tercatat.
Kenaikan suhu global tersebut didorong oleh anomali suhu di wilayah Nino3.4 di Pasifik tropis yang diperkirakan menembus angka 2,2 derajat Celsius pada September 2026. Berdasarkan standar klimatologi, suhu permukaan laut yang melebihi ambang batas 2 derajat Celsius secara konsisten dikategorikan sebagai peristiwa El Nino super.
Dilansir dari Detik iNET, kondisi El Nino umumnya mencapai puncak kekuatan pada periode November hingga Januari. Jika skenario super ini benar-benar terjadi, para ahli memperkirakan kemungkinan besar tahun 2027 akan menjadi tahun yang jauh lebih panas dibandingkan rekor-rekor tahun sebelumnya.
Studi terbaru dari Universitas Hawai'i di Mānoa yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters memberikan metode baru dalam memprediksi fenomena ini. Para peneliti mengklaim mampu memprediksi kemunculan El Nino dan La Niña hingga 15 bulan lebih awal hanya dengan mengamati suhu dan ketinggian permukaan laut.
"Kami menemukan model ini dapat memprediksi El Nino dan La Nina dengan sangat mengejutkan, dengan kemampuan yang bermanfaat hingga sekitar 15 bulan ke depan," kata Yuxin Wang, penulis utama studi tersebut. Model komputer mereka saat ini memprediksi perkembangan El Nino yang kuat dengan kenaikan suhu lebih dari 2 derajat Celsius di Pasifik timur ekuatorial pada akhir 2026.
Prediksi jangka panjang ini dinilai krusial bagi pemerintah dan masyarakat untuk melakukan adaptasi guna mengurangi dampak bencana. Fenomena ini tidak hanya meningkatkan suhu udara, tetapi juga berisiko memicu kekeringan parah, banjir bandang, hingga gelombang panas laut yang merusak ekosistem bawah air.