Produksi Migas Timur Tengah Dihentikan Akibat Konflik AS-Iran

Produksi migas di Timur Tengah dihentikan sementara menyusul serangan AS-Israel ke Iran. Harga minyak naik 13% dan gas melonjak 46%.

Kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah menyebabkan sejumlah raksasa minyak dan gas (migas) menghentikan sementara produksinya. Eskalasi konflik ini dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Reuters melaporkan pada Selasa (3/3/2026) bahwa Qatar telah menghentikan produksi gas alam cair (LNG) sejak Senin. Produksi LNG Qatar mencakup 20% pasokan global, memegang peranan penting dalam menyeimbangkan permintaan pasar di Asia dan Eropa.

QatarEnergy, yang 82% kliennya berasal dari Asia, mengumumkan force majeure atau keadaan kahar pada pengiriman LNG setelah fasilitas di kompleks Ras Laffan diserang oleh pesawat tak berawak Iran. Kompleks ini merupakan lokasi unit pengolahan gas Qatar, sebuah fasilitas besar yang mendinginkan gas alam menjadi bentuk cair untuk diekspor melalui kapal.

Serangan drone juga menyasar zona industri Mesaieed di selatan Qatar. Meskipun lokasinya jauh dari ladang gas, Mesaieed menjadi rumah bagi fasilitas petrokimia dan manufaktur. Akibat kejadian ini, harga gas alam melonjak 46% pada pukul 14.26 GMT.

Harga minyak turut mengalami kenaikan hingga 13%, melampaui US$ 82 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025. Penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dan AS menjadi penyebabnya.

Selain Qatar, kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco, dengan kapasitas 550.000 barel per hari, juga menghentikan operasinya sebagai tindakan pencegahan. Kilang ini merupakan bagian dari kompleks energi di pantai Saudi yang berfungsi sebagai terminal ekspor penting untuk minyak mentah Saudi.

Kurdistan Irak, yang mengekspor 200.000 barel minyak per hari, juga menangguhkan operasinya. Beberapa perusahaan lain, termasuk DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy, ikut menghentikan produksi di ladang mereka sebagai langkah preventif, tanpa adanya laporan kerusakan.

Pemerintah Israel menginstruksikan Chevron untuk menutup sementara ladang gas raksasa Leviathan di lepas pantai Israel. Padahal, mereka tengah memperluas kapasitas produksi menjadi sekitar 21 miliar meter kubik per tahun sebagai bagian dari kesepakatan ekspor senilai US$ 35 miliar ke Mesir. Energean juga menutup kapal produksinya yang melayani ladang gas Israel yang lebih kecil.

Sebagai informasi tambahan, Iran merupakan produsen terbesar ketiga di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mampu memompa 4,5% dari pasokan minyak global. Produksi minyak Iran mencapai sekitar 3,3 juta barel per hari dalam bentuk minyak mentah, ditambah 1,3 juta barel per hari kondensat dan cairan lainnya.

Recommended