Produksi Sawit Nasional 2025 Meningkat Capai 56 Juta Ton

GAPKI melaporkan produksi sawit Indonesia pada 2025 meningkat, mencapai sekitar 56 juta ton, termasuk CPO dan PKO.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengumumkan peningkatan produksi sawit nasional pada tahun 2025. Total produksi minyak sawit, yang mencakup crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO), mencapai sekitar 56 juta ton.

Eddy Martono, Ketua Umum GAPKI, menjelaskan bahwa produksi CPO mencapai 51 juta ton. Kenaikan ini didorong oleh program peremajaan yang mulai berproduksi.

"Jadi kita bersyukur tahun 2025 ini ada kenaikan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total, ini secara total produksi kita dengan PKO itu 56 juta. Nah kemudian saya sampaikan bahwa kenapa kok ini naik, karena memang akibat dari replanting-replanting perusahaan," kata Eddy usai pertemuan dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).

Menurut Eddy, potensi peningkatan produksi sawit nasional masih terbuka lebar, asalkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) berjalan lancar. Saat ini, program tersebut dinilai stagnan.

Salah satu penyebabnya adalah keengganan petani untuk melakukan peremajaan karena khawatir kehilangan pendapatan saat tanaman ditebang.

"Justru di sini kadang-kadang si petani itu enggan, contoh sekarang dengan harga TBS Rp 3.000 mereka tidak mau menebang tanamannya. Sehingga mereka sampaikan saya mau makan apa kalau saya tebang tanaman saya," ungkap Eddy.

Oleh karena itu, diperlukan solusi agar petani tetap memiliki penghasilan selama masa tunggu hingga tanaman sawit baru berproduksi, yang biasanya memakan waktu sekitar 2,5 tahun.

Eddy mengusulkan dukungan jaminan penghidupan bagi petani, selain melalui skema tumpang sari selama masa replanting.

Peningkatan produksi sawit ini penting untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat, terutama untuk mendukung program biodiesel. Eddy juga melaporkan kepada Amran mengenai upaya peningkatan produktivitas sawit melalui introduksi serangga penyerbuk serta pengembangan sumber daya genetik dari Afrika, termasuk Tanzania dan Zambia.

"Kita itu sudah berjalan program peningkatan produktivitas dengan melakukan introduksi serangga penyerbuk. Pertama ini dari Tanzania dan juga sumber daya genetik, itu kita juga dari Tanzania, sekarang yang sedang kita berjalan adalah dengan Zambia, ini sedang proses. Saya sampaikan bahwa ini sudah siap untuk dilepas, yang serangga penyerbuk termasuk sumber daya genetik," bebernya.

Diharapkan, program ini dapat meningkatkan produktivitas perkebunan sawit nasional. Pelepasan serangga penyerbuk dan sumber daya genetik direncanakan akan dilakukan oleh Amran setelah Lebaran, sekitar bulan April.

"Setelah lebaran, kita kira-kira April, kita akan lepas serangga penyerbuk dan juga sumber daya genetik," tutupnya.

Recommended