Prospek Rupiah Belum Aman, Pergerakan Harga Minyak Jadi Penentu

Nilai tukar rupiah masih rentan. Pergerakannya sangat bergantung pada perkembangan pasca gencatan senjata AS-Iran dan stabilitas harga minyak global.

Prospek nilai tukar rupiah dalam waktu dekat dinilai masih belum sepenuhnya aman. Arah pergerakan mata uang Garuda kini sangat ditentukan oleh perkembangan pascagencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang hingga kini menyisakan banyak ketidakpastian.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, berpandangan bahwa kesepakatan penghentian sementara konflik belum cukup kuat untuk mengubah arah pasar secara fundamental. Menurutnya, gencatan senjata ini lebih condong sebagai jeda taktis ketimbang solusi permanen.

Ujian sebenarnya, kata Josua, terletak pada pemulihan jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang merupakan titik krusial perdagangan minyak dunia. "Jika konflik hanya tertunda, harga minyak berpotensi menetap di kisaran US$100 per barel sebagai level baru," ujarnya, seperti dikutip dari Medcom.

Meskipun demikian, pasar memberikan respons positif terhadap kabar de-eskalasi konflik tersebut. Harga minyak global terkoreksi cukup tajam, dengan Brent turun sekitar 16 persen mencapai level USD91 per barel, sementara WTI melemah sekitar 14 persen.

Seiring dengan itu, indeks dolar AS menunjukkan pelemahan tipis, diikuti penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Pelaku pasar bahkan mulai mempertimbangkan kembali peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve hingga sekitar 60 persen pada akhir tahun.

Kombinasi faktor-faktor ini memberikan "ruang bernapas" bagi rupiah. Tekanan dari impor energi sedikit mereda, dan minat investor terhadap aset negara berkembang mulai membaik. Namun, Josua mengingatkan bahwa dampak positif tersebut masih terbatas. "Sentimen ini lebih berfungsi sebagai penahan tekanan, bukan pendorong penguatan besar," jelasnya.

Faktor Domestik dan Kebijakan Moneter

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga belum sepenuhnya reda. Bank Indonesia mencatat adanya arus keluar dana asing sebesar USD1,1 miliar pada bulan Maret, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik global.

Dalam kondisi tersebut, ruang kebijakan moneter menjadi semakin sempit. Jika harga minyak bertahan di kisaran USD75 per barel dan rupiah stabil di sekitar Rp16.750 per dolar AS, peluang penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia nyaris tertutup. Sebaliknya, jika harga minyak naik ke USD80 per barel dan rupiah melemah mendekati Rp17.000, arah kebijakan justru bisa berbalik menjadi lebih ketat.

Skenario Rupiah: Lemah tapi Terkendali

Melihat berbagai faktor yang mempengaruhi, Josua menilai skenario paling realistis untuk rupiah bukanlah penguatan yang tajam, melainkan bertahan di level yang lemah namun relatif stabil. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.100 per dolar AS dalam jangka menengah, terutama jika ketegangan geopolitik berlanjut.

Peluang penguatan di bawah Rp17.000 memang tetap terbuka, tetapi dengan syarat ketat, yaitu distribusi energi global benar-benar pulih, harga minyak tidak kembali melonjak signifikan, dan arus keluar modal asing dapat dikendalikan. Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah menunjukkan penguatan terbatas 93 poin atau sekitar 0,54 persen ke level Rp17.012 per dolar AS.

Kurs referensi JISDOR yang dirilis Bank Indonesia juga menguat ke Rp17.009 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.092. Meskipun ada perbaikan, pasar masih bersikap hati-hati. Untuk saat ini, rupiah tampaknya belum terlepas sepenuhnya dari bayang-bayang risiko global, dan semua kembali pada pertanyaan kunci: apakah perdamaian benar-benar bertahan, atau hanya jeda sebelum gejolak berikutnya.

Recommended