Upaya masif China untuk menghijaukan wilayah keringnya kini memperlihatkan pencapaian nyata. Sebuah program ambisius yang dikenal sebagai 'Tembok Hijau' sukses menekan laju perluasan gurun, demikian laporan terbaru berdasarkan pemantauan satelit milik NASA.
Proyek resmi yang dinamakan Three-North Shelterbelt Program ini telah bergulir sejak tahun 1978. Tujuannya sangat jelas: membendung ekspansi gurun-gurun besar seperti Gobi dan Taklamakan yang terus mengancam area pemukiman serta lahan pertanian di kawasan utara China.
Selama beberapa dekade, miliaran pohon telah ditanam guna membentuk sabuk hijau raksasa. Vegetasi ini berfungsi sebagai penghalang alami, efektif mengurangi dampak angin pembawa pasir, meminimalkan badai debu, dan menjaga stabilitas tanah di zona rawan penggurunan.
Perubahan signifikan terlihat pada area yang sebelumnya tandus, dengan tumbuhnya vegetasi baru serta peningkatan aktivitas biologis, termasuk proses fotosintesis. Hal ini terungkap dari data satelit yang dikutip dari Detik iNET.
Penemuan menarik lainnya adalah kemampuan area yang telah dihijaukan tersebut sebagai penyerap karbon alami. Ini berarti, di samping upaya menahan gurun, inisiatif ini juga berkontribusi dalam mitigasi dampak perubahan iklim global.
Salah satu peneliti yang berpartisipasi dalam studi ini, Yuk Yung, profesor ilmu planet di California Institute of Technology dan peneliti senior di NASA Jet Propulsion Laboratory, menilai bahwa temuan ini adalah bukti krusial dampak intervensi manusia terhadap lingkungan. "Untuk pertama kalinya kami menemukan bahwa intervensi manusia dapat meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering ekstrem," ujarnya.
Proyek Tembok Hijau dirancang membentang ribuan kilometer. Ketika rampung, sabuk hijau ini diproyeksikan mencapai panjang sekitar 4.500 kilometer.
Meskipun demikian, beberapa tantangan tetap membayangi. Tingkat kegagalan tanaman di beberapa wilayah cukup tinggi akibat kondisi tanah yang sangat kering. Selain itu, kurangnya diversifikasi jenis pohon juga dinilai berisiko terhadap ketahanan ekosistem jangka panjang.
Di balik berbagai kendala tersebut, program ini tetap dianggap sebagai salah satu eksperimen rekayasa lingkungan terbesar di dunia. Jika keberlanjutan keberhasilannya terjaga, pendekatan China ini berpotensi menjadi model global dalam menghadapi ancaman desertifikasi yang semakin meluas di berbagai belahan dunia.