Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mampu menyentuh angka 5,5 persen di tengah kondisi geopolitik global yang dinamis pada Selasa (14/4/2026). Optimisme ini didorong oleh fundamental ekonomi makro yang dinilai jauh lebih kuat dibandingkan krisis 1998.
Dilansir dari Detik Finance, pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 5,11 persen, yang merupakan tertinggi kedua di antara negara-negara G20 setelah India. Pemerintah juga berhasil menjaga defisit anggaran tetap di bawah angka 3 persen, lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat yang mencapai 6,3 persen.
Lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan global berada di kisaran 2,6 hingga 3,3 persen, sementara Indonesia diprediksi melampaui angka tersebut dengan target di atas 5,3 persen sepanjang tahun ini. Ketangguhan ekonomi nasional ditopang oleh konsumsi domestik yang menyumbang 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB adalah 5,11%. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3%. Dan kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5%," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Perekonomian.
Sektor pangan mencatatkan sejarah melalui swasembada beras sejak 2025 dengan total produksi mencapai 34,7 juta ton dan stok Bulog sebesar 4,6 juta ton per 8 April 2026. Pada sektor energi, pemerintah tengah mempercepat implementasi kebijakan B50 serta pengembangan energi surya untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Laporan Bloomberg menempatkan Indonesia sebagai negara dengan risiko resesi sangat rendah, yakni hanya 5 persen, jauh di bawah Jepang dan Amerika Serikat yang masing-masing mencapai 30 persen. Kondisi fiskal juga diperkuat dengan penerimaan pajak per Maret 2026 yang menembus Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen secara tahunan.
Indikator kesejahteraan sosial menunjukkan perbaikan dengan tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen dan angka pengangguran ditekan hingga 4,7 persen. Rasio utang pemerintah saat ini berada pada level 40,46 persen terhadap PDB dengan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) yang hanya tersisa 12,6 persen.
Cadangan devisa Indonesia tercatat masih berada pada posisi stabil sebesar US$ 148,2 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan enam bulan impor, yang berfungsi sebagai bantalan kuat terhadap potensi guncangan ekonomi eksternal di masa mendatang.