Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) untuk segera memitigasi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap ekonomi nasional di Kompleks DPR RI Senayan, Jakarta, pada Selasa (12/5/2026). Langkah antisipasi tersebut diminta menyusul posisi rupiah yang terpuruk hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah.
Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar dolar AS berada pada level Rp 17.520 atau mengalami kenaikan 106 poin (0,61 persen) pada pukul 10.10 WIB. Berdasarkan laporan dari Detik Finance, mata uang Amerika Serikat tersebut dibuka pada level Rp 17.487 pukul 09.06 WIB, yang berarti terjadi lonjakan sekitar Rp 33 hanya dalam waktu satu jam perdagangan.
"Tentu saja kita akan meminta kepada pemerintah dan stakeholder yang ada untuk mengantisipasi hal tersebut," kata Puan Maharani, Ketua DPR RI. Penegasan tersebut disampaikan agar gejolak ekonomi global tidak memberikan dampak buruk berkepanjangan bagi kondisi fiskal di dalam negeri.
Puan menekankan bahwa penjagaan stabilitas ekonomi oleh Pemerintah dan Bank Indonesia tidak boleh hanya berfokus pada periode jangka pendek. Menurutnya, kerangka antisipasi perlu disusun secara matang untuk menghadapi tekanan hingga tahun 2027 mendatang guna mencegah keterpurukan ekonomi.
DPR RI juga berencana melakukan pembahasan mendalam mengenai strategi menghadapi tekanan global tersebut dalam masa sidang berikutnya. Pembahasan akan difokuskan pada Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) sebagai landasan penyusunan APBN 2027.
"DPR juga akan masuk dalam pembahasan KEM PPKF, yaitu APBN 2027, karena itu juga termasuk dalam mengantisipasi APBN dan fiskal yang akan datang," ujar Puan. Agenda tersebut dijadwalkan menjadi prioritas legislatif dalam merumuskan ketahanan ekonomi nasional terhadap fluktuasi mata uang asing.