Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti tekanan signifikan terhadap stabilitas ekonomi nasional akibat eskalasi konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam pidatonya di Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Gejolak geopolitik tersebut dinilai telah memicu lonjakan harga energi global dan menekan tingkat inflasi yang mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat Indonesia secara luas. Berdasarkan laporan dari Detik Finance, situasi ini menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta mengganggu rantai pasok komoditas penting.
"Dampak tersebut telah mulai dirasakan dalam perekonomian nasional, antara lain terkait dengan harga bakar minyak, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar, kenaikan harga kemasan berbahan plastik, terganggunya rantai pasok komoditi, ketidakpastian investasi global," ujar Puan Maharani, Ketua DPR RI.
Puan menjelaskan bahwa meskipun titik konflik berada jauh dari wilayah geografis Indonesia, transmisi dampaknya tetap merambat ke pasar domestik. Hal ini terutama terlihat pada fluktuasi harga kebutuhan pokok yang secara langsung menggerus daya beli masyarakat dan mengancam stabilitas ekonomi makro.
Menanggapi kondisi tersebut, kepemimpinan DPR mendesak otoritas moneter dan fiskal untuk segera merumuskan langkah-langkah strategis demi menjaga ketahanan ekonomi. Sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah diharapkan mampu meredam volatilitas pasar dan memastikan pemenuhan kebutuhan dasar warga tetap terjamin.
Puan menegaskan bahwa kebijakan yang diambil harus berorientasi pada penguatan ekonomi rakyat di tengah ketidakpastian investasi global yang terus meningkat. Hingga saat ini, pemerintah terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah untuk memitigasi risiko lebih lanjut terhadap neraca perdagangan nasional.