Sistem klasifikasi usia pada video game telah lama menjadi acuan bagi pemain dan orang tua, jauh sebelum polemik implementasi Indonesia Game Rating System (IGRS) mencuat di platform digital. Dua sistem rating global yang paling dikenal adalah Entertainment Software Rating Board (ESRB) dan Pan European Game Information (PEGI) yang menjadi standar industri, seperti dilansir dari Medcom.
ESRB telah eksis di Amerika Utara sejak 1994, sementara PEGI mulai diterapkan di Eropa pada 2003. Kedua lembaga ini berperan vital dalam menentukan kelayakan usia pemain untuk sebuah judul game, membantu publik memahami konten yang akan mereka mainkan.
ESRB mengelompokkan rating dalam beberapa kategori, seperti E (Everyone), T (Teen), hingga M (Mature 17+). Di sisi lain, PEGI menggunakan sistem angka usia, yakni 3, 7, 12, 16, dan 18 tahun, sebagai indikator utama.
Sistem ini bukan sekadar label usia. Keduanya juga menyertakan deskripsi detail mengenai konten game, seperti keberadaan kekerasan, bahasa kasar, atau unsur perjudian. Informasi ini krusial untuk membantu pemain serta orang tua membuat keputusan yang tepat sebelum memainkan atau mengizinkan anak mereka bermain game.
Pendekatan komprehensif ini membuat ESRB dan PEGI diadopsi secara luas oleh platform game global, termasuk PlayStation Store, Xbox Store, dan Nintendo eShop. Sistem ini juga menjadi referensi utama bagi para penerbit game dalam mendistribusikan produk mereka lintas negara.
Rating Game Beradaptasi dengan Fitur Modern
Seiring dengan pesatnya evolusi industri game, sistem rating juga terus menyesuaikan diri. Jika sebelumnya fokus utama adalah konten visual atau narasi, kini penilaian turut mencakup fitur interaktif dalam game.
Sebagai contoh, PEGI mengumumkan pembaruan sistem yang akan berlaku mulai Juni 2026. Dalam skema baru ini, berbagai elemen seperti monetisasi dan interaksi online akan secara signifikan memengaruhi rating usia.
Elemen-elemen baru yang akan dinilai meliputi: loot box atau item acak berbayar, penawaran pembelian dengan waktu terbatas, sistem login harian dan reward berbasis waktu, serta komunikasi antar pemain tanpa filter.
Dampak dari pembaruan ini cukup signifikan. Game yang memiliki fitur tertentu dapat menerima rating usia yang lebih tinggi. Misalnya, implementasi loot box bisa meningkatkan rating menjadi PEGI 16 atau 18, tergantung cara penerapannya. Bahkan, game dengan komunikasi online tanpa kontrol dapat langsung dikategorikan sebagai PEGI 18+.
Langkah adaptasi ini selaras dengan pendekatan yang telah diterapkan di Jerman melalui sistem USK sejak 2023. Sistem USK juga telah mulai memasukkan faktor-faktor interaktif dalam klasifikasi usia game.
Perubahan ini menegaskan bahwa sistem rating global terus diperbarui agar relevan dengan cara game dimainkan saat ini. Penilaian tidak hanya terpaku pada konten visual semata, tetapi juga memperhatikan bagaimana game dapat memengaruhi perilaku pemain, khususnya anak-anak.
Melalui pendekatan yang lebih adaptif ini, sistem rating game berfungsi sebagai alat penting untuk menjaga keamanan pengguna sekaligus memberikan transparansi informasi kepada publik. Di Indonesia, IGRS memiliki tujuan serupa, yaitu melindungi pengguna dari konten yang tidak sesuai usia. Namun, polemik terkini menyoroti pentingnya konsistensi dan proses verifikasi dalam penerapannya.