Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, resmi mengakhiri tradisi tanda tangan basah pada ijazah dan transkrip mahasiswa dalam prosesi Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Yogyakarta, Kamis (30/4/2026). Langkah manual ini tetap dipertahankan hingga akhir masa jabatannya sebagai bentuk apresiasi personal kepada para lulusan.
Dilansir dari Medcom, praktik membubuhkan tanda tangan secara langsung tersebut telah dijalankan Fathul Wahid secara konsisten selama delapan tahun memimpin UII. Proses ini tetap dilakukan meski tren administrasi pendidikan tinggi saat ini telah beralih masif ke penggunaan tanda tangan elektronik atau digital.
Fathul Wahid memandang lembaran ijazah bukan sekadar dokumen birokrasi, melainkan representasi dari perjuangan panjang mahasiswa selama menempuh studi. Pilihan menggunakan pena secara manual di atas ribuan lembar dokumen tersebut dimaksudkan untuk memberikan sentuhan kemanusiaan dalam setiap kelulusan.
"Ketika tanda tangan itu saya punya kesempatan untuk mewiridkan doa setiap ijazah, transkrip yang saya tanda tangani," ujar Fathul Wahid, Rektor UII, dalam tayangan di kanal YouTube resmi universitas saat prosesi wisuda tersebut.
Momen Wisuda Periode IV ini menjadi kesempatan terakhir bagi Fathul Wahid melakukan tradisi tersebut sebelum menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan. Berdasarkan data universitas, masa tugasnya sebagai pimpinan tertinggi kampus akan selesai dalam waktu dekat.
Posisi Rektor UII dijadwalkan akan resmi berganti dan diisi oleh pimpinan baru mulai 1 Juni 2026. Pergantian kepemimpinan ini sekaligus menandai berakhirnya era tanda tangan manual yang telah menjadi ciri khas pelayanan administratif di masa jabatan Fathul Wahid.