Aktivitas elektromagnetik Bumi atau dikenal sebagai Resonansi Schumann mengalami peningkatan. Fenomena yang sering disebut 'detak jantung Bumi' ini memicu spekulasi mengenai dampaknya pada otak manusia.
Beberapa klaim menyebutkan bahwa perubahan frekuensi pada Resonansi Schumann dapat menyebabkan gangguan seperti sakit kepala, pusing, gangguan tidur, hingga sensasi "otak terasa kacau".
Resonansi Schumann sendiri adalah gelombang elektromagnetik berfrekuensi sangat rendah yang berada di atmosfer Bumi. Frekuensi normalnya sekitar 7,83 Hz dan tercipta akibat sambaran petir antara permukaan Bumi dan ionosfer.
Karena frekuensi ini mirip dengan rentang gelombang otak manusia (theta 4-8 Hz), muncul dugaan bahwa fluktuasi resonansi ini memengaruhi fungsi kognitif dan suasana hati.
Menurut laporan aplikasi cuaca luar angkasa MeteoAgent, frekuensi Resonansi Schumann sempat meningkat signifikan di bulan Februari, bahkan melebihi angka 5 pada skala 0-9 (untuk menilai gangguan elektromagnetik). Peningkatan ini diduga terkait dengan flare Matahari moderat yang memengaruhi medan elektromagnetik Bumi.
Spekulasi di media sosial menghubungkan lonjakan ini dengan gejala fisik seperti sakit kepala, kebingungan, dan telinga berdenging. Akan tetapi, laporan-laporan ini bersifat anekdot dan belum didukung bukti ilmiah yang kuat.
Pakar dari The New York Post menjelaskan bahwa Resonansi Schumann memang ada dan dipengaruhi aktivitas petir serta kondisi ionosfer. Namun, hubungan antara fluktuasi resonansi dengan kondisi neurologis atau psikologis manusia belum terbukti secara ilmiah. Belum ada studi yang memastikan bahwa resonansi ini bisa langsung menyebabkan gangguan kognitif.
Kajian ilmiah di Wikipedia mencatat bahwa Resonansi Schumann adalah fenomena fisika yang dipahami dalam konteks elektromagnetik dan gelombang radio, bukan sebagai penyebab langsung gangguan mental atau kesehatan. Perubahan kecil dalam resonansi ini adalah variasi normal di atmosfer dan ionosfer yang dipicu oleh petir dan kondisi ruang angkasa.
Ilmuwan berpendapat bahwa teori yang mengaitkan gelombang elektromagnetik Bumi dengan pikiran atau perilaku manusia memang menarik, tetapi belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung klaim bahwa Resonansi Schumann secara langsung 'mengacaukan' pikiran atau otak manusia.