Pakar kesehatan memberikan penjelasan mengenai perdebatan dampak penggunaan headphone bluetooth terhadap tubuh manusia yang mencakup risiko gangguan pendengaran hingga paparan radiasi pada Jumat (24/4/2026). Meskipun teknologi nirkabel menawarkan kenyamanan, kebiasaan pengguna dalam mengatur volume suara menjadi faktor utama pemicu kerusakan gendang telinga.
Dilansir dari Medcom, dr. Alvin Nursalim dari KlikDokter menyatakan bahwa ancaman terbesar bukan berasal dari teknologi bluetooth itu sendiri. Penggunaan volume yang terlalu keras dalam durasi panjang secara bertahap dapat merusak fungsi pendengaran pengguna secara permanen.
Kekhawatiran mengenai paparan medan elektromagnetik (PME) juga sempat memicu ratusan peneliti internasional mendesak WHO dan PBB untuk memperketat regulasi perangkat nirkabel. International Agency for Research on Cancer (IARC) bahkan pernah mengklasifikasikan radiasi frekuensi radio sebagai kemungkinan karsinogenik bagi manusia pada 2011 lalu.
"Gelombang radio yang dipancarkan perangkat tersebut termasuk radiasi non-ionisasi, yang tidak memiliki energi cukup untuk merusak DNA seperti sinar X atau sinar gamma," kata dr. Widya Eka Nugraha, MSiMed, dosen biomedik sel dan molekuler. Ia menegaskan hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan headphone bluetooth dapat merusak otak manusia.
Widya menambahkan bahwa efek yang muncul hanya berupa pemanasan jaringan dalam skala sangat kecil yang masih berada di bawah ambang batas aman internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan belum menemukan bukti konsisten terkait dampak kesehatan serius dari paparan radiofrekuensi tersebut.
Risiko kesehatan lain yang lebih nyata justru meliputi iritasi telinga, infeksi akibat kelembapan, hingga nyeri otot leher akibat postur tubuh yang buruk. Selain itu, penggunaan headphone di ruang publik dapat mengurangi kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar yang berpotensi memicu kecelakaan.
Sebagai langkah pencegahan, para ahli menyarankan pengguna untuk rutin membersihkan perangkat dan membatasi durasi pemakaian. Penggunaan teknologi bone conduction juga direkomendasikan sebagai alternatif bagi individu yang aktif berolahraga atau sering beraktivitas di area terbuka.