Dosen Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) Atika Dian Ariana menyoroti potensi tekanan psikologis serius bagi penumpang pasca-kecelakaan antara KA Argo Bromo dan KRL Lintas Cikarang di Bekasi Timur pada Rabu, 29 April 2026.
Dilansir dari Medcom, insiden tersebut dinilai sebagai situasi krisis yang secara alami memicu respons emosional dan stres akibat ancaman bahaya mendadak. Atika menjelaskan bahwa korban umumnya mengalami reaksi awal berupa kaget, bingung, hingga disorientasi sesaat setelah kejadian.
Gejala fisik seperti jantung berdebar, gemetar, keringat dingin, dan sesak napas juga kerap muncul sebagai bagian dari respons stres tubuh. Atika menekankan bahwa cara individu memaknai peristiwa tersebut sangat menentukan proses pemulihan psikologis masing-masing korban.
Risiko gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dapat meningkat jika individu merasa kejadian tersebut melampaui batas ketahanan dirinya. Faktor riwayat gangguan mental dan minimnya dukungan sosial menjadi pemicu yang memperbesar risiko trauma jangka panjang.
"Respons tersebut juga dapat muncul dalam bentuk fisik. Seperti gemetar, jantung berdebar, keringat dingin, hingga sesak napas sebagai bagian dari respons stres," ujar Atika Dian Ariana, Dosen Psikologi Fakultas Psikologi UNAIR.
Beberapa indikasi seseorang membutuhkan bantuan profesional meliputi munculnya ingatan traumatis secara berulang, mimpi buruk, serta perilaku menghindari hal-hal terkait kecelakaan. Jika gejala ini menetap selama enam bulan, korban disarankan segera mencari penanganan ahli.
Pemerintah didorong untuk menyediakan layanan pendampingan psikologis yang sistematis dan terstruktur bagi para korban. Langkah ini mencakup kepastian hukum bagi keluarga korban serta jaminan perlindungan hak kerja selama masa pemulihan berlangsung.