Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menanggapi isu mengenai keberadaan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret yang dituding menyebabkan toko kelontong dan pasar tradisional mengalami kebangkrutan.
Budi menjelaskan bahwa pemerintah telah menerapkan pola kemitraan sejak ritel modern mulai masuk ke desa sekitar tahun 2015. Melalui skema ini, distributor ritel modern bertugas memasok produk ke toko-toko kelontong.
"Kan dulu ketika Alfamart Indomaret ada tahun 2015-an, kita bikin namanya pola kemitraan. Pola kemitraan itu nanti kerjasama antara distributornya Alfamart Indomaret itu memasok Toko Kelontong," ujar Budi di Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026).
Menurut Budi, program kemitraan ini terus berjalan. Bahkan, saat ini ritel modern turut membantu dalam manajemen dan penataan produk di toko kelontong.
"Nah sekarang tidak sekedar bagaimana memasok, tapi bahkan manajemennya terus tampilan produknya itu selalu dibantu oleh retail modern. Jadi sebenarnya pola kerjasama dengan UMKM itu berjalan terus," imbuhnya.
Dengan demikian, Budi menampik tudingan bahwa ritel modern menjadi penyebab utama gulung tikarnya toko kelontong dan pasar tradisional. Ia menegaskan bahwa skema kemitraan yang ada selama ini berjalan dengan baik.
"Karena selama ini sebenarnya nggak ada masalah, berjalan aja dengan baik. Program pola kemitraan itu," jelasnya.
Sebelumnya, Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) menyampaikan kekhawatiran terkait jumlah warung kelontong yang terus menyusut akibat ekspansi ritel modern ke wilayah pedesaan. Ketua Umum APKLI, Ali Mahsun, mengungkapkan data ini setelah bertemu dengan Menteri Koperasi Ferry Juliantono.
Ali menyebutkan bahwa pada tahun 2007, terdapat sekitar 6,1 juta warung kelontong di Indonesia. Namun, pada awal tahun 2025, jumlah tersebut menyusut menjadi hanya 3,9 juta unit. Artinya, sekitar 2,2 juta warung kelontong telah tutup.
Selain berdampak pada warung kelontong, kondisi ini juga memicu penutupan pasar tradisional. Ali mencatat bahwa setidaknya 3.500 pasar tradisional juga mengalami nasib serupa.
"Dan 2025, warung kelontong kita tersisa 3,9 juta. Jadi saya laporkan ke Pak Menteri Koperasi sejak 2007, Perpres 112/2007, sampai 2025 sudah ada 2,2 juta warung kelontong yang terkikis," ujar Ali di Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).