Rupiah Melemah ke Level Rp17.284 per Dolar AS pada April 2026

Rupiah tercatat melemah ke level Rp17.284 per dolar AS pada 24 April 2026 akibat tekanan suku bunga global dan ketidakpastian pasar keuangan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke level Rp17.284 pada perdagangan pasar spot yang terpantau hingga Jumat, 24 April 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah kuatnya tekanan eksternal akibat kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Berdasarkan data yang dilansir dari Medcom, mata uang Garuda telah mengalami depresiasi sebesar 2,94 persen dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Tren penurunan ini terlihat lebih tajam jika ditarik ke periode enam bulan dengan total pelemahan mencapai 4,15 persen.

Secara tahun berjalan atau year to date (ytd), kinerja rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang negara berkembang di Asia yang berada di bawah performa rata-rata. Meskipun demikian, depresiasi rupiah sebesar 3,5 persen sejak awal tahun hingga 23 April 2026 bukan merupakan yang terburuk di kawasan regional.

"Pelemahan Rupiah sejak awal tahun tercatat sekitar 3,5% per 23 April 2026," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Ia menilai bahwa meskipun pergerakan dolar global cenderung mendatar, rupiah tetap menghadapi tekanan konsisten akibat sentimen pasar.

Sebagai perbandingan, sejumlah mata uang negara berkembang lainnya mencatatkan kontraksi yang lebih dalam daripada rupiah. Rupee India dan Lira Turki masing-masing telah melemah sekitar 4,5 persen dan 4,7 persen dalam periode yang sama tahun ini.

Tekanan terhadap mata uang Asia terlihat merata dengan pelemahan moderat di kisaran 2 hingga 3 persen pada Won Korea Selatan, Peso Filipina, dan Baht Thailand. Kondisi ini dipicu oleh faktor risiko spesifik di tiap negara, mulai dari defisit perdagangan hingga inflasi yang persisten.

Kondisi ekonomi di India saat ini terbebani oleh tingginya impor energi dan defisit perdagangan, sementara Turki menghadapi inflasi tinggi. Di sisi lain, Korea Selatan harus berhadapan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan fenomena arus modal keluar asing yang masif.

Pelemahan rupiah saat ini dinilai lebih mencerminkan perpaduan antara sentimen penghindaran risiko global atau risk-off serta meningkatnya premi risiko domestik. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi mata uang Indonesia tidak dipicu oleh adanya krisis kebijakan yang ekstrem di dalam negeri.

Recommended