Rupiah Melemah ke Rp17.513 per Dolar AS pada Selasa Pagi

Nilai tukar rupiah merosot ke level Rp17.513 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026) akibat tekanan geopolitik global dan kondisi ekonomi domestik.

Nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 99 poin atau 0,57 persen ke level Rp17.513 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026 pukul 10.16 WIB. Pelemahan signifikan ini dipicu oleh kombinasi tekanan geopolitik global di Timur Tengah dan faktor musiman domestik.

Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Medcom, mata uang Garuda terus berada di bawah tekanan seiring dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Kondisi tersebut memicu para investor global untuk mengalihkan aset mereka ke dolar AS yang dianggap sebagai instrumen investasi aman.

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi, menilai fenomena ini sebagai "perfect storm" atau akumulasi berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan. Selain ketegangan geopolitik, faktor domestik seperti periode pembayaran dividen kepada investor asing turut meningkatkan kebutuhan valuta asing di pasar nasional.

"Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam," kata Rijadh Djatu Winardi, Akademisi FEB UGM. Kekhawatiran pasar terhadap keterbatasan ruang fiskal dan defisit anggaran juga ikut memperbesar risiko terhadap perekonomian dalam negeri.

Dampak dari depresiasi nilai tukar ini diprediksi akan memicu inflasi impor, di mana harga bahan baku dari luar negeri menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah. Perusahaan yang bergantung pada komponen impor akan menghadapi lonjakan biaya produksi yang berimbas pada penyesuaian harga jual ke masyarakat.

Kenaikan harga diperkirakan akan menyasar sektor kebutuhan pokok, transportasi, hingga produk kesehatan dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan ke depan. Konsumen diprediksi mulai merasakan beban kenaikan biaya hidup seiring dengan diteruskannya beban produksi dari produsen kepada pembeli.

Recommended