Saham ANTM Bertahan Hijau Saat Indeks Bisnis-27 Melemah, Pasar Masih Tertekan

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kembali dibuka dengan tekanan kuat pada Kamis pagi (29/1/2026). Indeks Bisnis-27 langsung bergerak di zona merah sejak menit awal, mencerminkan sentimen pasar yang masih rapuh setelah koreksi tajam sehari sebelumnya.

Di tengah kondisi tersebut, saham antm justru mencuri perhatian. PT Aneka Tambang Tbk. menjadi satu-satunya saham konstituen Indeks Bisnis-27 yang mampu bertahan di jalur penguatan saat mayoritas saham lain tertekan.

Fenomena ini menarik dicermati. Ketika tekanan jual masih mendominasi dan investor asing tercatat melakukan aksi lepas saham dalam jumlah besar, ketahanan saham antm memberi sinyal bahwa pasar mulai melakukan seleksi, bukan sekadar menjual secara membabi buta.

Indeks Bisnis-27 Dibuka Melemah Sejak Awal Perdagangan

Mengacu pada data perdagangan pukul 09.01 WIB, Indeks Bisnis-27 tercatat turun 3,95% ke level 500,86. Dari total 27 saham konstituen, hanya satu saham yang dibuka menguat, sementara 25 saham melemah dan satu saham bergerak stagnan.

Pada fase awal perdagangan, aktivitas transaksi terbilang cukup ramai. Volume mencapai sekitar 536,2 juta saham dengan nilai transaksi menembus Rp1,97 triliun. Kapitalisasi pasar Indeks Bisnis-27 berada di kisaran Rp3.764 triliun.

Tekanan ini tidak lepas dari koreksi tajam yang terjadi pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Rabu (28/1), Indeks Bisnis-27 sudah lebih dulu anjlok 6,46% ke level 521,45, sejalan dengan pelemahan signifikan indeks utama pasar saham Indonesia.

Saham ANTM Jadi Pengecualian di Tengah Tekanan Pasar

Di tengah mayoritas saham yang dibuka melemah, saham antm justru mencatatkan penguatan. Saham PT Aneka Tambang Tbk. naik sekitar 0,90% ke level Rp4.460 pada pembukaan perdagangan.

Kinerja ini membuat saham ANTM menjadi satu-satunya konstituen Indeks Bisnis-27 yang bergerak positif pagi ini. Ketahanan tersebut menonjol, terutama jika dibandingkan dengan tekanan yang dialami saham-saham berkapitalisasi besar lainnya.

Secara historis, saham sektor tambang, khususnya yang berbasis komoditas logam, kerap menjadi alternatif defensif ketika pasar saham bergejolak. Investor cenderung melihat prospek jangka menengah hingga panjang, terutama jika didukung fundamental dan ekspektasi harga komoditas global.

Mayoritas Saham Unggulan Dibuka Turun Tajam

Berbeda dengan ANTM, sejumlah saham unggulan justru dibuka melemah cukup dalam. Beberapa saham yang tercatat mengalami koreksi signifikan antara lain:

  • PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) turun 3,37% ke Rp2.010

  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) melemah 4,32% ke Rp1.660

  • PT Astra International Tbk. (ASII) terkoreksi 3,24% ke Rp5.975

  • PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 4,63% ke Rp6.700

Tekanan juga merata di sektor perbankan pelat merah. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) turun 3,60% ke Rp4.280, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang melemah 2,85% ke Rp4.430, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang turun 1,11% ke Rp3.550.

Sementara itu, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menjadi salah satu yang paling tertekan dengan penurunan hingga 15% ke level Rp1.955.

Tekanan Berlanjut di Saham Tambang dan Kesehatan

Tekanan jual juga menjalar ke sejumlah saham tambang dan sektor defensif lain. Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turun 14,97% ke Rp250, sedangkan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) terkoreksi 2,35% ke Rp6.225.

Dari sektor kesehatan, saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) dibuka melemah 2,27% ke Rp1.075. Saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) juga turun 2,86% ke Rp2.380.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pasar bersifat luas, tidak hanya terfokus pada satu sektor tertentu. Investor cenderung melakukan pengurangan risiko secara menyeluruh.

IHSG Masih Tertekan, Dipicu Aksi Jual Asing

Pelemahan Indeks Bisnis-27 sejalan dengan kondisi indeks harga saham gabungan atau IHSG. Pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG tercatat turun sekitar 4,80% ke level 7.921, melanjutkan koreksi tajam pada penutupan sebelumnya yang mencapai 7,35% ke 8.320,56.

Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan di pasar saham nasional masih berpotensi berlanjut. Pelemahan sebelumnya terjadi bersamaan dengan aksi net foreign sell jumbo yang mencapai sekitar Rp6,17 triliun.

Tekanan tersebut bahkan sempat memicu terjadinya trading halt pertama pada tahun 2026, sebuah indikasi bahwa volatilitas pasar berada di level tinggi.

Dampak Kebijakan MSCI dan Sentimen Global

Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, salah satu pemicu utama tekanan pasar berasal dari pengumuman MSCI yang menetapkan pembekuan sejumlah perubahan dalam indeks review, termasuk untuk periode Februari 2026.

Kebijakan ini berdampak langsung pada alokasi dana investor institusi global, terutama yang berbasis indeks. Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung mengambil sikap defensif dalam jangka pendek.

Dari sisi global, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed. Keputusan bank sentral Amerika Serikat ini kerap menjadi katalis utama pergerakan pasar keuangan global, termasuk di Indonesia.

Analisis Teknikal: Pasar Masih Mencari Titik Keseimbangan

Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase rawan. Tim riset menilai indeks berpotensi melanjutkan pelemahan dengan area support di kisaran 8.200–8.210. Selama tekanan jual belum mereda, pasar cenderung bergerak volatil.

Dalam kondisi seperti ini, investor umumnya disarankan untuk menunggu konfirmasi stabilisasi sebelum mengambil keputusan besar. Pergerakan saham yang bertahan positif, seperti saham antm, biasanya akan terus dicermati sebagai indikator awal minat beli selektif.

Apa Artinya bagi Investor?

Ketahanan saham ANTM di tengah tekanan luas pasar menunjukkan bahwa sentimen tidak sepenuhnya negatif. Ada indikasi bahwa sebagian investor mulai melakukan seleksi berbasis fundamental, bukan sekadar mengikuti arus jual.

Namun demikian, volatilitas masih tinggi. Risiko jangka pendek tetap perlu diperhitungkan, terutama dengan adanya faktor eksternal seperti kebijakan indeks global dan arah suku bunga internasional.

Kesimpulan

Pembukaan perdagangan Kamis (29/1/2026) menegaskan bahwa pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan. Indeks Bisnis-27 dan IHSG sama-sama melemah, dipicu aksi jual asing dan sentimen global.

Di tengah kondisi tersebut, saham antm tampil sebagai pengecualian dengan mencatatkan penguatan. Pergerakan ini memberi gambaran bahwa pasar mulai bergerak lebih selektif, meski risiko volatilitas masih membayangi.

Disclaimer

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Penulis dan media tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Recommended