Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan arah yang bervariasi menjelang cum date atau batas akhir perdagangan saham dengan hak dividen yang jatuh pada 27 Maret mendatang. Pada penutupan sesi I perdagangan hari ini, Rabu (25/3), saham BBCA tercatat mengalami penguatan meski terbatas.
Menurut data perdagangan RTI Business pada pukul 13.07 WIB, saham BBCA mengalami kenaikan sebesar 0,74% dan mencapai harga Rp 6.825 per lembar saham. Pada pembukaan perdagangan, harga saham BBCA sempat menyentuh level terendahnya di posisi Rp 6.675 per lembar.
Volume perdagangan saham BBCA pada sesi I mencapai 185,98 juta lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,26 triliun. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 37.257 kali.
Secara mingguan, pergerakan saham BBCA cenderung stagnan. Saham ini juga menjadi yang paling banyak dijual oleh investor asing. Pada perdagangan 17 Maret, tercatat net foreign sell sebesar Rp 216,85 miliar. Sepanjang tahun 2026, net sell BBCA mencapai Rp 18,37 triliun.
BBCA akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 336 per saham kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2025. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan pada 12 Maret 2026.
Dividen tunai tersebut termasuk dividen interim tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 55 per saham yang telah dibayarkan pada 22 Desember 2025. Dengan demikian, sisa dividen tunai yang akan dibayarkan adalah Rp 281 per saham.
Cum date BBCA untuk pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 27 Maret 2026, sementara untuk pasar tunai berakhir pada 31 Maret 2026, seperti dikutip dari Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ex dividen atau awal periode perdagangan saham tanpa hak dividen akan dibuka pada 30 Maret 2026 untuk pasar reguler dan negosiasi, serta 1 April 2026 untuk pasar tunai.
Tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen atau record date ditetapkan pada 31 Maret 2026. Pembayaran dividen tunai untuk tahun buku 2025 akan dilaksanakan pada 8 April 2026.