Saham Emiten INKP Melonjak 5,87 Persen: Laba Tembus Rp5,4 Triliun dan PBV Masih Diskon

Pergerakan pasar modal di awal pekan ini memberikan kejutan manis bagi para investor yang mencermati sektor kertas dan pulp. Saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), salah satu pilar bisnis Grup Sinar Mas, terpantau mengalami lonjakan signifikan pada penutupan sesi I perdagangan hari ini. Antusiasme pasar terlihat sangat tinggi, yang ditandai dengan volume transaksi yang masif dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Ketertarikan investor bukan tanpa alasan yang kuat. Selain performa teknikal yang hijau royo-royo, fundamental emiten ini sedang berada di titik yang sangat menarik perhatian para pemburu saham undervalue. Dengan posisi harga saat ini, INKP seolah menjadi primadona di tengah fluktuasi indeks, terutama bagi mereka yang mengedepankan analisis nilai intrinsik dan kinerja laba bersih yang solid sepanjang periode berjalan.

Momen ini sekaligus menegaskan dominasi Grup Sinar Mas di lantai bursa, di mana saham INKP berhasil menjadi magnet bagi aliran modal masuk (capital inflow). Para pelaku pasar tampaknya mulai menyadari bahwa harga pasar saat ini belum mencerminkan nilai buku perusahaan yang sebenarnya, sehingga aksi borong saham tidak terelakkan lagi pada perdagangan Senin siang ini.

Performa Saham INKP dan Dominasi Net Buy

Pada akhir sesi I perdagangan Senin (23/2/2026), harga saham INKP diparkir menguat tajam sebesar 5,87 persen ke level Rp10.375 per lembar saham. Aktivitas perdagangan terpantau sangat dinamis dengan total 21,21 juta lembar saham yang berpindah tangan. Frekuensi transaksi mencapai 5.405 kali dengan nilai transaksi menembus angka Rp219,96 miliar.

Daya tarik utama pada perdagangan hari ini adalah akumulasi beli yang sangat besar. Berdasarkan data terkini dari Stockbit Sekuritas, saham INKP mencatatkan net buy senilai Rp131 miliar. Angka ini merupakan posisi tertinggi di antara jajaran saham lain yang mencatatkan beli bersih oleh investor, menunjukkan adanya kepercayaan diri yang besar dari pemodal institusi maupun ritel terhadap prospek emiten ini ke depan.

Analisis Valuasi: Harga Pasar Masih Diskon Setengah Harga

Meskipun harga telah melonjak lebih dari 5 persen hari ini, valuasi saham emiten produsen kertas ini dinilai masih sangat murah secara historis maupun fundamental. Hal ini terlihat dari rasio Price to Book Value (PBV) INKP yang berada di angka 0,51 kali.

Perbandingan Harga dan Nilai Buku

  • Harga Pasar Saat Ini: Rp10.375

  • Nilai Buku (Book Value) per Saham: Sekitar Rp20.343

  • Selisih Valuasi: Diskon sekitar 50 persen dari nilai buku.

Dengan PBV di bawah 1 kali, saham ini secara teknis diperdagangkan jauh di bawah nilai aset bersihnya. Selain itu, rasio Price Earning Ratio (PER) INKP tercatat di level 6,67 kali (Trailing Twelve Months/TTM), sebuah angka yang cukup atraktif jika dibandingkan dengan rata-rata industri sejenis yang seringkali memiliki PER di atas 10 kali.

Kinerja Keuangan dan Insight Bisnis

Fundamental kuat INKP didorong oleh capaian laba bersih yang impresif. Hingga periode sembilan bulan tahun 2025, perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar US$325,92 juta. Jika dikonversikan ke dalam mata uang lokal, nilai tersebut setara dengan Rp5,4 triliun.

Pencapaian laba ini menunjukkan efisiensi operasional dan kemampuan perusahaan dalam menjaga margin di tengah tantangan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas kertas. Sebagai pemain utama di pasar global, INKP diuntungkan oleh pemulihan rantai pasok dan permintaan kemasan kertas yang tetap stabil untuk kebutuhan ekspor maupun domestik.

Pandangan Otoritas dan Konteks Pasar

Dalam berbagai kesempatan, Bursa Efek Indonesia (BEI) senantiasa mengingatkan investor untuk selalu memperhatikan aspek fundamental dalam mengambil keputusan investasi. “Penting bagi investor untuk melihat kinerja keuangan secara komprehensif, termasuk pertumbuhan laba dan rasio valuasi, agar tidak terjebak dalam spekulasi jangka pendek,” demikian inti dari panduan umum yang sering disampaikan oleh otoritas bursa terkait emiten dengan nilai aset besar.

Secara nasional, sektor barang baku (basic materials) memang diprediksi akan terus menjadi pendorong indeks tahun ini, seiring dengan optimalisasi kapasitas produksi manufaktur di Indonesia yang mulai meningkat sejak akhir 2025 lalu.

Dikutip dari investor.id 23/2/2026.

Recommended