Sektor pertambangan mineral kritis kembali menjadi panggung utama di Bursa Efek Indonesia setelah saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan lonjakan aktivitas transaksi yang signifikan. Pada perdagangan sesi I, Kamis (12/2/2026), emiten anak usaha Grup Merdeka ini menjadi magnet bagi pemodal mancanegara yang melakukan aksi beli bersih dalam jumlah masif. Pergerakan ini kontras dengan kondisi pasar sebelumnya, menandakan adanya pergeseran sentimen yang cukup kuat terhadap prospek nikel dan baterai kendaraan listrik di awal tahun ini.
Dikutip dari investor.id (12/2/26), minat tinggi investor asing ini tercermin langsung pada apresiasi harga saham yang bergerak di zona hijau sejak pembukaan pasar. Tidak hanya sekadar kenaikan harga teknikal, volume perdagangan yang jumbo menunjukkan bahwa ada akumulasi nyata yang sedang terjadi di tengah dinamika harga komoditas global yang masih fluktuatif. Fenomena ini menarik perhatian pelaku pasar yang mencari kepastian mengenai arah investasi di sektor energi terbarukan.
Kenaikan harga dan volume transaksi ini menjadi sinyal penting bagi para pemegang saham maupun calon investor. Di saat beberapa emiten nikel lain masih berjuang dengan tekanan harga jual rata-rata, MBMA justru menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Fokus perusahaan pada integrasi vertikal dari tambang hingga pemrosesan bahan baku baterai tampaknya mulai mendapatkan apresiasi yang lebih dalam dari institusi keuangan global yang sangat memperhatikan aspek keberlanjutan dan kepastian suplai jangka panjang.
Rincian Transaksi Saham MBMA dan Dominasi Arus Modal Asing
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga jeda siang ini, saham MBMA terpantau menguat 0,68% dan bertengger di level Rp 735 per saham. Meskipun persentase kenaikan terlihat moderat, namun jika menilik data transaksi di balik layar, intensitas perdagangan menunjukkan gairah yang sangat tinggi. Tercatat sebanyak 146 juta saham MBMA telah berpindah tangan dengan frekuensi mencapai 17,92 ribu kali, serta nilai transaksi total menembus Rp 108,2 miliar.
Aksi beli bersih atau net foreign buy menjadi motor utama penggerak harga hari ini. Berdasarkan data dari platform Stockbit, MBMA menempati posisi pertama sebagai saham yang paling banyak diborong asing dari sisi volume pada jeda siang ini. Investor asing membukukan beli bersih sebanyak 33.240.300 saham. Angka ini mencerminkan optimisme baru, mengingat pada hari sebelumnya, Rabu (11/2/2026), saham ini justru mencatatkan jual bersih atau net sell asing senilai Rp 3,78 miliar.
Pembalikan arah arus modal dari keluar menjadi masuk dalam kurun waktu 24 jam ini seringkali diinterpretasikan sebagai respon terhadap berita fundamental atau sekadar strategi rebalancing portofolio oleh manajer investasi asing. Level harga Rp 735 dianggap sebagai area krusial yang mampu bertahan dari tekanan jual, sehingga memicu minat beli kembali saat harga mulai stabil.
Mengapa Investor Asing Kembali Melirik MBMA
Ada beberapa faktor strategis yang membuat saham MBMA kembali masuk ke radar investor institusi global. Salah satunya adalah posisi strategis perusahaan dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik (EV). Berikut adalah beberapa rincian yang mendukung kredibilitas MBMA di mata pasar:
Kapasitas Produksi dan Integrasi RKEF
MBMA terus memperkuat kapasitas operasional melalui fasilitas Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF). Dengan kepemilikan saham di beberapa smelter nikel, perusahaan mampu memastikan aliran pendapatan yang stabil meskipun harga nikel dunia mengalami tekanan. Efisiensi biaya operasional yang diterapkan di proyek-proyek mereka menjadi nilai tambah utama bagi investor yang mengedepankan aspek profitabilitas jangka panjang.
Proyeksi Pergerakan Harga dan Strategi Investasi
Secara teknikal, keberhasilan MBMA bertahan di level Rp 735 dengan dukungan volume beli asing yang besar memberikan indikasi adanya support kuat di area tersebut. Jika aksi beli asing berlanjut pada sesi II dan perdagangan esok hari, tidak menutup kemungkinan harga saham akan menguji level resisten berikutnya di kisaran Rp 750 hingga Rp 770.
Namun, investor juga perlu mencermati pergerakan harga nikel di London Metal Exchange (LME) dan perkembangan makroekonomi global, terutama kebijakan suku bunga yang dapat mempengaruhi selera risiko investor asing di pasar berkembang. Bagi investor jangka panjang, fluktuasi harian seperti yang terjadi hari ini mungkin dilihat sebagai peluang untuk melakukan dollar-cost averaging, mengingat fundamental MBMA yang masih solid di sektor energi hijau.
Aksi borong asing ini membuktikan bahwa meskipun pasar saham domestik terkadang mengalami tekanan, aset-aset berkualitas yang memiliki narasi pertumbuhan jelas tetap akan menjadi pilihan utama bagi modal internasional. Ke depan, konsistensi MBMA dalam melaporkan kinerja keuangan yang positif akan menjadi kunci untuk mempertahankan momentum “diguyur duit asing” ini.