Dua perusahaan semikonduktor terkemuka asal Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, tengah menggenjot perluasan fasilitas produksi mereka di Tiongkok. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi melonjaknya permintaan global akan chipset memori, terutama yang didorong oleh kebutuhan sektor kecerdasan buatan (AI).
Peningkatan investasi di pabrik Tiongkok bertujuan untuk modernisasi teknologi produksi dan ekspansi kapasitas output. Dilansir dari Medcom, kedua raksasa teknologi tersebut telah menginvestasikan sekitar 1,5 triliun won Korea Selatan atau setara 1 miliar dolar AS (sekitar Rp17 triliun) pada tahun lalu untuk fasilitas di Tiongkok.
Fokus ekspansi ini diarahkan pada peningkatan produksi NAND Flash dan DRAM. Kedua jenis chip memori ini krusial untuk menopang pertumbuhan pesat teknologi AI, pusat data, serta komputasi modern. Dengan tingginya kebutuhan pasar global, Samsung dan SK Hynix berusaha memaksimalkan seluruh kapasitas produksi yang tersedia, termasuk di Tiongkok.
Samsung secara spesifik memperbesar investasinya pada pabrik Xi’an. Fasilitas ini merupakan satu-satunya pusat produksi NAND Flash milik perusahaan di luar Korea Selatan. Investasi di pabrik Xi’an diproyeksikan mencapai 465,4 miliar won Korea Selatan (Rp5,2 triliun) pada tahun 2025, angka yang menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya.
Pabrik di Xi’an ini memiliki peran strategis, menyumbang sekitar 40% dari total produksi NAND Samsung secara global. Sementara itu, SK Hynix juga terus memperkuat operasionalnya di Tiongkok, termasuk fasilitas di Wuxi dan Dalian. Lokasi-lokasi ini esensial untuk produksi DRAM dan NAND perusahaan.
Tiongkok telah menjadi basis produksi utama bagi kedua perusahaan, memberikan kontribusi substansial pada total output global mereka. Ekspansi ini berlangsung di tengah dinamika pasar yang kian kompleks dan kompetitif. Selain menghadapi peningkatan permintaan, Samsung dan SK Hynix juga bersaing dengan produsen chipset lokal Tiongkok yang semakin maju.
Tidak hanya itu, mereka juga harus menghadapi regulasi ekspor yang lebih ketat dari Amerika Serikat. Meskipun demikian, kedua perusahaan tetap memandang Tiongkok sebagai elemen vital dalam strategi produksi global mereka. Dengan memanfaatkan fasilitas yang telah ada, mereka dapat meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga pasokan chipset di tengah kelangkaan global.
Perluasan ini menggarisbawahi bahwa industri semikonduktor global semakin didikte oleh kebutuhan akan teknologi AI. Kondisi ini mendorong para produsen chipset untuk secara agresif meningkatkan kapasitas produksi guna memenuhi lonjakan permintaan pasar yang berkelanjutan.