Sastia Prama Putri: 21 Tahun di Jepang, Bangga Paspor Indonesia

Ilmuwan diaspora, Sastia Prama Putri, 21 tahun berkarier di Jepang, tetap bangga dengan kewarganegaraan Indonesianya.

Dedikasi Sastia Prama Putri sebagai WNI yang berkarier di luar negeri menuai perhatian warganet. Ilmuwan diaspora ini telah 21 tahun menetap dan berkarier di Jepang, namun tetap bangga memegang paspor Indonesia.

Melalui akun Instagram @sas.tiaputri, Sastia menceritakan perjalanannya ke Jepang yang tidak mudah. Ia mengungkapkan bahwa beasiswa dari pemerintah Jepang membawanya ke sana.

"21 tahun di Jepang bangga masih paspor Indonesia," tulis Sastia, dikutip Jumat, 27 Februari 2026.

Selama di Jepang, Sastia aktif meneliti tempe, pangan khas Indonesia, dan mendorongnya menjadi inovasi mendunia. Ia juga berperan meningkatkan ekspor komoditas prioritas Indonesia ke Jepang serta menjadi tenaga pengajar.

"Mendidik puluhan mahasiswa Indonesia yang sudah dan akan kembali ke Tanah Air," bebernya.

Unggahan Sastia menarik perhatian Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, yang mengapresiasi kontribusinya sebagai diaspora.

"Jika kita menggunakan beasiswa LPDP dengan tepat, akan lebih banyak lagi yang seperti Mbak Sastia," tulis Stella.

Sastia Prama Putri adalah dosen luar biasa ITB yang tergabung dalam Kelompok Keahlian Mikrobiologi. Meski berstatus dosen di ITB, ia beraktivitas di Osaka, Jepang, sebagai asisten profesor bidang metabolomik di Osaka University.

Selain mengajar, Sastia aktif meneliti aplikasi metabolomik untuk produk pangan khas Indonesia, seperti tempe, kopi, manggis, dan pisang. Pada 2015, ia terpilih sebagai salah satu ilmuwan wanita yang menginspirasi dan menerima penghargaan L'Oreal-UNESCO For Women in Science.

Salah satu karya ilmiahnya yang mendapat perhatian adalah riset tentang standar kualitas kopi luwak menggunakan teknologi metabolomik.

Jejak Pendidikan dan Karier

Ketertarikan Sastia pada ilmu Biologi sejak kecil membawanya pada perjalanan akademis yang gemilang:

  1. Kuliah Biologi di ITB

    Sastia adalah alumni Biologi ITB angkatan 2000. Minatnya pada basic science tumbuh sejak kecil, mendorongnya memilih Biologi sebagai bidang studi.

  2. Trainee di Jepang berkat beasiswa Pemerintah Jepang dan UNESCO

    Setelah lulus S1, Sastia berkesempatan menjadi trainee selama satu tahun di Jepang, mengikuti UNESCO Postgraduate Inter-University Course in Biotechnology dengan beasiswa dari pemerintah Jepang dan UNESCO. Ia dibimbing oleh Prof. Nihira.

  3. Raih Beasiswa S2 dan S3 di Osaka University

    Prof. Nihira menawarkan beasiswa dari pemerintah Jepang untuk melanjutkan studi S2 dan S3. Sastia kembali ke Jepang dan merampungkan studinya dalam 3,5 tahun.

  4. Asisten Profesor di Osaka University sekaligus Dosen ITB

    Setelah meraih gelar doktor, Sastia bergabung sebagai asisten profesor di Departemen Biotechnology Osaka University di bawah bimbingan Prof. Fukusaki. Ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai dosen luar biasa ITB dengan mengajar Mikrobiologi untuk mahasiswa S1 dan Aplikasi Omics untuk mahasiswa S2.

  5. Raih Penghargaan L'Oreal-UNESCO For Women in Science 2015

    Pada 2015, Sastia meraih penghargaan L'Oreal-UNESCO For Women in Science atas dedikasinya dalam dunia sains.

Recommended