Pasokan minyak mentah untuk pasar Asia dari Saudi Aramco mengalami pemangkasan pada bulan April. Ini menjadi pengurangan kedua berturut-turut yang dilakukan perusahaan secara bulanan.
Kebijakan ini diambil setelah gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Saudi Aramco hanya akan memasok minyak jenis Arab Light dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah kepada pelanggan kontrak pada April.
Kondisi tersebut menyebabkan terbatasnya pasokan minyak ke kilang-kilang di Asia. Walaupun demikian, perusahaan menyatakan komitmennya untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan.
"Saudi Aramco terus memastikan pasokan energi yang andal dengan memanfaatkan rute ekspor alternatif melalui Yanbu sebagai respons terhadap kondisi kawasan yang terus berkembang. Kami tetap berkomitmen memenuhi harapan pelanggan, dengan penyesuaian jadwal pengapalan sesuai kondisi terbaru, serta terus memberikan informasi kepada pelanggan," kata perusahaan dalam pernyataannya, dikutip dari Reuters, Selasa (24/3/2026).
Ekspor minyak mentah Arab Saudi tercatat sebesar 4,355 juta barel per hari sepanjang Maret, menurut data dari perusahaan analitik Kpler. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan dengan angka 7,108 juta barel per hari pada Februari.
Saat ini, Saudi Aramco berupaya meningkatkan ekspor melalui Yanbu untuk mengkompensasi gangguan yang terjadi di Selat Hormuz. Volume pengapalan diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi pada bulan Maret.
Kilang terbesar di China, Sinopec, dijadwalkan untuk memuat 24 juta barel minyak Saudi dari Yanbu pada bulan ini. Akan tetapi, aktivitas pengapalan di pelabuhan Yanbu sempat mengalami gangguan pada hari Kamis setelah sebuah drone jatuh di kilang SAMREF milik Saudi Aramco.