Puslapdik Kemendikbud Ristek Ungkap Sejarah Evolusi Simbol Matematika

Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan memaparkan sejarah penemuan notasi matematika sebagai bahasa universal peradaban manusia pada Senin (20/4/2026).

Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Kemendikbud Ristek memaparkan sejarah panjang di balik terciptanya simbol-simbol matematika melalui unggahan edukasi pada Senin, 20 April 2026. Penjelasan ini bertujuan menumbuhkan antusiasme belajar siswa dengan memperkenalkan notasi angka sebagai bahasa universal peradaban manusia.

Simbol-simbol dasar seperti tambah (+), kurang (-), hingga tanda sama dengan (=) bukan sekadar alat bantu hitung, melainkan hasil evolusi pemikiran selama berabad-abad. Sebagaimana dilansir dari Medcom, setiap tanda tersebut merupakan jembatan yang menghubungkan konsep abstrak dengan realitas kehidupan sistematis.

Tanda sama dengan (=) pertama kali diperkenalkan oleh matematikawan Inggris, Robert Recorde, pada tahun 1557. Recorde memilih dua garis sejajar karena menganggap tidak ada dua benda yang lebih setara dibandingkan sepasang garis paralel tersebut.

Sementara itu, simbol minus (-) dan plus (+) didokumentasikan dalam buku milik Johannes Widmann pada 1489 untuk merujuk pada surplus dan defisit bisnis. Tanda tambah sendiri berakar dari istilah Latin "et" yang berarti "dan", yang kemudian mengalami penyederhanaan bentuk visual.

Perkembangan notasi berlanjut pada abad ke-17 saat William Oughtred memperkenalkan tanda perkalian (x) pada 1631. Pada periode yang hampir bersamaan, Johann Rahn memperkenalkan simbol pembagian atau obelus pada 1659 untuk mewakili pecahan antara dua angka.

Konsep ketakterhinggaan atau simbol lemniskat (∞) baru muncul pada 1655 melalui karya John Wallis. Di sisi lain, simbol-simbol kompleks seperti integral (∫) diciptakan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada akhir abad ke-17 dengan mengambil inspirasi dari huruf "S" panjang untuk istilah Latin "summa".

"Memahami sejarah di balik setiap tanda artinya menghargai warisan yang menyatukan berbagai generasi dalam satu bahasa matematika," tulis laporan tersebut dalam unggahan Instagram @puslapdik_dikbud.

Tokoh lain seperti Leonhard Euler turut menyempurnakan notasi f(x) dan mempopulerkan simbol pi (π) pada abad ke-18. Penggunaan huruf Yunani sigma (Σ) sebagai simbol penjumlahan dalam kalkulus dan aljabar juga menjadi kontribusi besar Euler bagi dunia sains modern.

Recommended