Hendi Saputro, seorang remaja asal Sragen, kembali melanjutkan pendidikannya di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen pada Selasa, 21 April 2026, setelah sempat putus sekolah demi bekerja sebagai buruh bengkel guna membantu ekonomi keluarga yang terpuruk.
Kondisi ekonomi keluarga Hendi sangat terbatas lantaran ibunya telah wafat akibat pandemi COVID-19, sementara sang ayah menderita stroke berkepanjangan. Dilansir dari Medcom, kakek dan nenek Hendi harus memikul beban ekonomi dengan mencari sisa karet untuk dijual.
Samini (70) dan Patmo Suwito (76), kakek serta nenek Hendi, bekerja mengumpulkan getah karet dengan penghasilan rata-rata Rp50.000 per hari. Pendapatan tersebut digunakan untuk biaya makan harian, perawatan medis ayah Hendi, serta kebutuhan adik-adiknya.
Melalui program Sekolah Rakyat ini, Hendi yang kini duduk di kelas 7 SMP mendapatkan jaminan fasilitas penuh di asrama. Seluruh kebutuhan pendidikan, mulai dari seragam, alat tulis, hingga konsumsi bergizi tiga kali sehari disediakan tanpa biaya bagi siswa prasejahtera.
"Cucu saya diberi fasilitas komplit, saya tidak mengeluarkan sepeser pun," ujar Samini, nenek Hendi, kepada Medcom. Ia berharap pendidikan ini mampu memutus mata rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu keluarganya selama beberapa generasi.
Selain dukungan pendidikan bagi sang cucu, pemerintah melalui Kementerian Sosial juga memberikan bantuan modal ekonomi berupa dua ekor kambing kepada Samini dan Patmo. Bantuan ini ditujukan untuk memperbaiki taraf hidup keluarga tersebut di masa depan.
Kementerian Sosial mendapatkan mandat langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengelola program Sekolah Rakyat ini. Program tersebut dirancang agar menjadi ruang bagi siswa dari keluarga tidak mampu untuk membangun masa depan yang lebih terjamin melalui akses pendidikan yang merata.