Laporan State of the Internet (SOTI) 2026 dari Akamai yang dirilis pada Sabtu (18/4/2026) mengungkapkan bahwa ketergantungan perusahaan di Asia-Pasifik terhadap kecerdasan buatan (AI) memicu lonjakan serangan pada Application Programming Interface (API).
Sepanjang tahun 2025, tercatat hampir 65 miliar serangan siber menyasar aplikasi web dan API di kawasan tersebut, yang menandakan kenaikan sebesar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dilansir dari Detik iNET.
Data global menunjukkan situasi yang serupa dengan 87 persen perusahaan melaporkan pernah mengalami insiden keamanan terkait API. Serangan DDoS Layer 7 yang menargetkan proses permintaan pengguna juga mengalami peningkatan drastis sebesar 104 persen dalam dua tahun terakhir.
Pergeseran metode serangan kini mulai terlihat, di mana 61 persen serangan API di Asia-Pasifik memanipulasi logika bisnis secara langsung. Bot jahat berbasis AI digunakan untuk meniru lalu lintas pengguna asli guna mencuri data hingga menyedot token AI perusahaan.
Sektor ritel dan jasa keuangan menjadi target utama karena volume transaksi digital yang tinggi, diikuti oleh perusahaan telekomunikasi dan teknologi. Tren vibe coding atau penulisan kode instan dengan AI turut memperparah celah keamanan akibat minimnya pengawasan manusia.
"Di seluruh kawasan Asia-Pasifik, penerapan kecerdasan buatan (AI) mempercepat transformasi bisnis dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Reuben Koh, Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan APJ Akamai.
"Namun, kecepatan ini juga telah menyebabkan kesenjangan tata kelola yang semakin melebar, sehingga memaksa berbagai organisasi untuk meninjau kembali lanskap risiko mereka secara keseluruhan," lanjut Reuben Koh.
Kesenjangan tenaga ahli keamanan siber menjadi tantangan utama bagi negara berkembang seperti Vietnam dan Thailand. Sementara itu, negara maju seperti Singapura dan Jepang menghadapi kesulitan dalam memantau jutaan API yang beroperasi secara bersamaan.