Sebuah sekolah dasar di Iran hancur akibat pengeboman yang terjadi pekan lalu. Citra satelit komersial menunjukkan kehancuran mengerikan tersebut. Serangan ini menewaskan setidaknya 175 orang, termasuk banyak siswi.
Rekaman drone memperlihatkan proses penggalian puluhan kuburan untuk para korban. Analisis awal mengindikasikan bahwa rudal yang digunakan dalam serangan ini kemungkinan adalah Tomahawk buatan Amerika Serikat.
Serangan udara ini diduga menargetkan kompleks militer Iran yang berdekatan dengan sekolah. Insiden ini menjadi gambaran nyata dari situasi mengerikan yang terjadi sejak dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran akhir bulan lalu.
Pembantaian ini menimbulkan pertanyaan tentang penggunaan teknologi dalam perang. Ada laporan yang menyebutkan bahwa militer AS menggunakan AI Claude buatan Anthropic untuk memilih target selama serangan ke Iran, termasuk serangan terhadap sekolah ini.
Pentagon menolak untuk mengkonfirmasi atau menyangkal peran AI dalam pengeboman sekolah tersebut. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa AI mungkin telah salah memilih target, sehingga sekolah terkena imbas rudal Tomahawk.
Awalnya, baik AS maupun Israel tidak mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Donald Trump, yang saat itu menjabat sebagai Presiden AS, mengklaim bahwa Iran membunuh anak-anaknya sendiri. Namun, New York Times melaporkan bahwa pejabat AS mengonfirmasi serangan itu memang dilakukan oleh rudal Tomahawk milik militer AS.
Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, perwira di Komando Pusat AS menggunakan data kedaluwarsa yang diberikan oleh Badan Intelijen Pertahanan (Defense Intelligence Agency) untuk menentukan koordinat target serangan.
NYT juga melaporkan bahwa militer sedang menyelidiki kemungkinan penyebab salah sasaran, termasuk apakah model kecerdasan buatan, program pengolahan data, atau sarana pengumpulan intelijen teknis lainnya berperan dalam insiden ini.
Dilansir dari Futurism, Claude bekerja sama dengan Maven Smart System milik Badan Intelijen Geospasial Nasional (National Geospatial-Intelligence Agency) untuk mengidentifikasi target penting di Iran.
Terlepas dari hasil penyelidikan, para pejabat mengatakan kepada NYT bahwa pengeboman sekolah itu merupakan kesalahan manusia (human error), meskipun target dipilih dengan bantuan teknologi.
Analisis NYT terhadap citra satelit historis yang berasal dari tahun 2013 menunjukkan bahwa para pejabat Komando Pusat kemungkinan menggunakan informasi usang. Citra tersebut menunjukkan bahwa sekolah telah dipisahkan dari pangkalan militer di dekatnya antara tahun 2013 dan 2016, sehingga seharusnya tidak menjadi sasaran.