Serangan Bom Klaster Iran Bikin Israel Kewalahan

Serangan rudal balistik Iran dengan bom klaster meningkat, membuat Israel kesulitan. IAF mempertimbangkan efektivitas pencegatan.

Intensitas serangan rudal balistik Iran yang membawa hulu ledak bom klaster ke Israel semakin meningkat, menimbulkan tantangan bagi pertahanan Israel. Angkatan Udara Israel (IAF) menghadapi pertimbangan sulit terkait penanganan proyektil ini.

Pakar pertahanan rudal, Dr. Uzi Rubin, menjelaskan bahwa amunisi klaster berisi banyak bom kecil (bomblet) yang dipasangkan pada rudal Iran.

"Ujung rudal, alih-alih berisi satu tabung besar peledak, memiliki mekanisme yang menampung banyak bom kecil. Saat rudal mendekati target, selongsongnya terbuka, terkelupas, dan berputar, sehingga bom-bom kecil tersebut terlepas ke udara dan jatuh ke tanah," jelasnya.

Sistem pertahanan idealnya menghancurkan rudal saat hulu ledaknya masih utuh. Setelah mekanisme klaster aktif dan menyebarkan bom-bom kecil, pencegatan menjadi kurang efektif karena muatan sudah terpisah.

Pejabat militer Israel menyatakan bahwa karena bom klaster cenderung tidak menyebabkan bahaya signifikan jika warga berada di tempat perlindungan, kadang IAF memilih untuk tidak menembak jatuh seluruhnya demi menghemat rudal pencegat jarak pendek.

Sejak dimulainya perang pada 28 Februari, Iran telah menembakkan lebih dari 350 rudal balistik ke Israel. Dalam 10 hari pertama, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memperkirakan sekitar setengah dari rudal yang diluncurkan membawa hulu ledak bom klaster. Persentase ini tampak meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Berbeda dengan hulu ledak konvensional, bom klaster terbuka saat meluncur turun, seringkali di ketinggian yang sangat tinggi, dan menyebarkan antara 24 hingga 80 amunisi yang lebih kecil. Menurut IDF, masing-masing membawa beberapa kilogram bahan peledak dengan radius sebaran hingga 10 kilometer.

Amunisi ini tidak memiliki penggerak atau pemandu sendiri dan meledak saat benturan. Beberapa sub-amunisi terkadang tidak meledak saat menyentuh tanah, menjadi ancaman bagi siapa pun yang menemukannya.

Sembilan orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka akibat bom klaster di Israel. Sebuah pasangan lansia tewas ketika bom klaster menghantam rumah mereka saat mencoba menuju ruang aman.

Bahan peledak beberapa kilogram dari bom klaster dapat menyebabkan kerusakan materiil dan melukai orang di luar ruangan, tetapi pejabat militer menilai tidak mampu menembus bunker perlindungan.

Rudal pembawa bom klaster dapat dicegat sebelum terbuka menggunakan sistem pertahanan udara jarak jauh seperti Arrow. Namun, setelah hulu ledaknya terbuka, puluhan bom kecil harus ditangani sistem jarak pendek seperti Iron Dome, yang menjadi kewalahan.

Di Israel, seperti dikutip detikINET dari The Times of Israel, tercatat lebih dari dua lusin insiden rudal hulu ledak klaster menghantam pemukiman dengan lebih dari 100 titik hantaman terpisah bersamaan dengan tiga rudal hulu ledak konvensional yang menyebabkan kerusakan luas.

Recommended