Singapura Dorong Perusahaan Ekspansi ke Batam, Bintan, Karimun

Federasi Manufaktur Singapura (SMF) mengajak perusahaan alat kesehatan dan elektronik memperluas bisnis ke kawasan BBK.

Federasi Manufaktur Singapura atau Singapore Manufacturing Federation (SMF) mengimbau lebih banyak perusahaan di sektor alat kesehatan dan elektronik untuk memperluas operasi bisnisnya ke wilayah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) di Provinsi Kepulauan Riau.

Langkah ini sejalan dengan upaya Indonesia dalam mengembangkan kawasan industri baru. Tujuannya adalah mendukung pertumbuhan sektor manufaktur sekaligus meningkatkan konektivitas pelabuhan antara Indonesia dan Singapura.

Singapura telah lama menjadi salah satu investor asing utama di kawasan BBK, bahkan tercatat sebagai investor asing terbesar di Batam sejak tahun 2023.

Menurut laporan Channel News Asia (CNA) pada Sabtu (28/3/2026), investasi Singapura pada semester pertama tahun lalu mencapai S$ 617,3 juta atau setara dengan Rp 8,08 triliun (dengan kurs Rp 13.100). Angka ini mencakup sekitar 69% dari total investasi asing di Batam.

Dalam seminar investasi kawasan yang diadakan pada Selasa (24 Maret), SMF mengingatkan para produsen untuk mempertimbangkan berbagai faktor sebelum melakukan ekspansi ke luar negeri.

Wakil Presiden SMF, Melvin Tan, menyoroti bahwa keandalan pasokan listrik bervariasi di setiap wilayah. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu memahami keterbatasan dan kebutuhan energi sebelum memulai investasi.

Kawasan BBK dapat dicapai dalam waktu sekitar 40 hingga 90 menit dengan feri dari Singapura. Wilayah ini merupakan bagian dari Kepulauan Riau dan termasuk dalam kerja sama ekonomi segitiga pertumbuhan Singapura-Johor-Riau yang diusulkan pada tahun 1989 oleh mantan Wakil Perdana Menteri Singapura, Goh Chok Tong.

Inisiatif tersebut bertujuan menggabungkan keunggulan Singapura dalam manajemen, teknologi, dan infrastruktur dengan ketersediaan tenaga kerja, lahan, serta sumber daya alam dari Johor dan Kepulauan Riau. Konsep ini tetap relevan hingga saat ini, terutama dengan adanya inisiatif baru seperti Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura.

Saat ini, kawasan BBK memiliki setidaknya lima kawasan ekonomi khusus yang fokus pada industri seperti kesehatan, elektronik, dan penerbangan. Kawasan ini menawarkan insentif pajak, kemudahan perizinan, serta infrastruktur untuk menarik investor asing.

Perusahaan yang beroperasi di kawasan ini mencakup berbagai sektor, mulai dari manufaktur, logistik, teknologi informasi, hingga pusat data. Dalam kemitraan Singapura-BBK, diterapkan strategi "twinning", yakni kantor pusat dan fasilitas riset ditempatkan di Singapura, sementara manufaktur skala besar dan operasi digital ditempatkan di BBK karena biaya lahan, tenaga kerja, dan utilitas yang lebih efisien.

Recommended