Siswa di China Gunakan Kacamata AI untuk Menyontek Ujian

Tren menyontek menggunakan kacamata pintar berbasis AI marak di kalangan siswa China, bahkan memicu pasar sewa perangkat untuk kelancaran ujian.

Potensi penyalahgunaan teknologi kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk tindakan menyontek saat ujian kini menjadi sorotan, khususnya di kalangan pelajar China. Perangkat canggih dari merek seperti Meta dan Rokid dilaporkan digunakan siswa untuk mencari jawaban selama tes, memicu munculnya layanan penyewaan kacamata semacam ini, demikian dilansir dari Detik iNET.

Seorang siswa yang tidak ingin disebutkan identitasnya mengakui kebiasaan tersebut. Ia menyatakan bahwa kacamata pintar menjadi alat bantu utama saat menghadapi soal-soal ujian yang dirasa sulit. Bahkan, siswa ini terkadang menyewakan kacamata miliknya kepada teman-teman yang juga membutuhkan bantuan serupa dalam ujian.

Fungsionalitas kacamata AI ini memungkinkan perangkat untuk memindai teks pada lembar soal dan menampilkan jawaban secara langsung melalui lensa. Tren ini juga diamini oleh seorang pebisnis penyewaan kacamata pintar buatan Rokid dan Alibaba. Ia mengungkapkan bahwa mayoritas pelanggannya adalah siswa yang memerlukan perangkat ini untuk keperluan ujian.

Promosi kacamata pintar di media sosial China gencar dilakukan dengan klaim kemampuan menjawab soal bahasa Inggris dan matematika. Biaya sewanya bervariasi antara 6 hingga 12 dolar AS per hari, atau setara Rp 95.000 hingga Rp 190.000, tergantung model yang dipilih.

Regulasi di China sebenarnya sudah melarang keras penggunaan kacamata pintar dalam ujian masuk perguruan tinggi dan tes pegawai negeri. Namun, banyak siswa yang berhasil lolos dari pengawasan karena desain kacamata pintar kini semakin canggih dan menyerupai kacamata biasa, menyulitkan identifikasi oleh pengawas.

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di China. Di Amerika Serikat, institusi seperti pengadilan dan penyelenggara tes standar, contohnya College Board, telah memberlakukan larangan penggunaan kacamata pintar. Kendati demikian, penegakan aturan di lapangan masih menghadapi tantangan besar. Kesulitan utama terletak pada proses identifikasi visual perangkat tersebut.

Meskipun beberapa model kacamata seperti Ray-Ban Meta AI memiliki kamera yang cukup terlihat, model lain, seperti yang diproduksi oleh Even Realities, hampir tidak menampilkan ciri fisik mencolok. Perangkat ini hanya memiliki layar kecil di dalam lensa yang sangat sulit dideteksi jika tidak diperiksa secara seksama dari jarak dekat.

Kondisi ini menambah beban bagi pengawas ujian atau petugas keamanan di lokasi sensitif seperti ruang sidang. Mereka dituntut untuk memiliki pengetahuan spesifik mengenai berbagai model dan ciri kacamata pintar agar dapat melakukan penyaringan secara efektif.

Walaupun institusi pendidikan dan penegak hukum mulai menyadari ancaman ini, masih menjadi pertanyaan besar apakah mereka memiliki kemampuan dan kemauan untuk melakukan pemeriksaan yang ketat. Selama identifikasi fisik tetap sulit, penggunaan kacamata pintar untuk menyontek diprediksi akan terus menjadi celah yang dimanfaatkan banyak pihak.

Recommended