Seorang siswa SMKN 4 Samarinda berinisial MRS meninggal dunia pada Jumat, 24 April 2026, setelah mengalami pembengkakan hebat pada bagian kaki yang diduga akibat memaksakan penggunaan sepatu berukuran kecil. Peristiwa tragis ini memicu perhatian pemerintah pusat terkait akses bantuan pendidikan bagi keluarga tidak mampu di Kalimantan Timur.
Dilansir dari Medcom, MRS tetap mengenakan sepatu berukuran 40 meskipun ukuran kakinya telah mencapai nomor 43 karena kondisi ekonomi keluarga yang belum sanggup membeli perlengkapan baru. Akibat tekanan terus-menerus, kaki korban mengalami infeksi dan pembengkakan yang berujung pada penurunan kondisi fisik secara drastis.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden ini saat ditemui di Bandung pada Rabu, 6 Mei 2026. Ia menyebut faktor kemiskinan ekstrem menjadi akar permasalahan yang memaksa siswa tersebut mengabaikan kesehatan demi tetap bersekolah.
"Kaget juga, demikian dahsyat sekali itu. Dan langsung di pikiran saya pasti ini miskin, sampai dipaksakan memakai sepatu yang nomornya kecil jadi infeksi begitu," kata Atip Latipulhayat, Wamendikdasmen.
Berdasarkan data kependidikan, MRS diketahui tidak tercatat sebagai penerima dana Program Indonesia Pintar (PIP) meskipun berasal dari keluarga prasejahtera. Atip menyayangkan lambatnya proses pengusulan bantuan dari pihak sekolah yang baru mendaftarkan nama siswa tersebut melalui dinas sesaat sebelum kejadian.
Laporan kronologi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur menunjukkan MRS sempat mengikuti Praktik Kerja Industri hingga 20 Maret 2026. Namun, pada 1 April 2026, kondisi fisiknya mulai menurun sehingga sekolah menyarankannya untuk beristirahat di rumah.
Pihak keluarga sempat menganggap penyakit korban merupakan gangguan nonmedis dan sempat meminta bantuan dana kepada pihak sekolah untuk pengobatan alternatif pada 10 April 2026. Sekolah juga sempat berupaya membantu pengurusan BPJS karena adanya tunggakan biaya kesehatan keluarga sebesar Rp2.400.000.
Meski sempat dilaporkan membaik pada 23 April 2026, MRS dinyatakan meninggal dunia keesokan harinya. Hingga saat ini, belum ada kesimpulan medis resmi mengenai penyebab kematian karena tidak adanya diagnosis dari fasilitas kesehatan selama masa perawatan di rumah.