Siti Soleha, seorang mantan karyawan lembaga keuangan mikro, berhasil mengembangkan usaha keagenan perbankan hingga memiliki tiga cabang di kawasan Pasar Ciampea, Kabupaten Bogor, pada Rabu (28/4/2026). Langkah bisnis ini diambil Lili, sapaan akrabnya, setelah memutuskan berhenti bekerja guna mengelola warung milik orang tuanya.
Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, Lili kini mengoperasikan layanan perbankan di tiga titik berbeda, termasuk di Rancabungur dan Desa Benteng. Fokus operasional di area pasar terbukti strategis karena mampu melayani kebutuhan transaksi cepat bagi para pedagang setempat.
Nilai transaksi harian di gerai milik Lili tercatat cukup fantastis dengan angka mencapai Rp100 juta per hari. Nasabah utamanya terdiri dari pengusaha beras, pengepul barang bekas, hingga pedagang emas yang membutuhkan layanan setor dan tarik tunai tanpa harus mengantre di kantor bank.
Dari aktivitas layanan tersebut, Lili mampu meraup laba bersih dari biaya administrasi sebesar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari. Keuntungan ini jauh melampaui pendapatan awal saat ia hanya mengandalkan usaha warung kelontong biasa di rumahnya.
"Transaksinya di sini besar-besar, bisa sampai Rp 100 juta per hari," kata Siti Soleha, Pemilik Agen BRILink Syafiq. Ia menjelaskan bahwa masyarakat pasar lebih memilih jasa agen karena akses yang lebih cepat dan fleksibel dibandingkan jam operasional kantor cabang bank.
Pencapaian Lili selama empat tahun terakhir juga berdampak pada peningkatan taraf hidup keluarganya, termasuk kemampuan membeli kendaraan operasional untuk keamanan pengambilan uang tunai. Ia awalnya merintis usaha ini melalui skema Sentra Layanan Ultra Mikro (SenyuM) yang mengintegrasikan berbagai layanan keuangan satu atap.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyatakan bahwa jaringan keagenan ini menjadi penggerak ekonomi kerakyatan dengan mendekatkan layanan keuangan ke pelosok. Hingga akhir Maret 2026, jumlah agen serupa telah mencapai 1,18 juta orang yang tersebar di lebih dari 66.450 desa di seluruh Indonesia.