Seorang pelaku UMKM asal Semarang, Slamet, sukses mengembangkan bisnis wingko babat keluarga sejak 2010 hingga mampu bertahan di tengah fluktuasi ekonomi pada Minggu (10/5/2026). Usaha yang dirintis bersama istrinya tersebut kini telah berkembang dari dua tungku menjadi 12 tungku produksi.
Sebagaimana dilansir dari Medcom, perjalanan usaha ini bermula dari pengalaman Slamet bekerja pada produsen asal Lamongan sebelum memutuskan mandiri. Modal awal yang digunakan sebesar Rp5 juta berasal dari pinjaman bank untuk membeli bahan baku ketan dan kelapa.
Kapasitas produksi harian Slamet saat ini mencapai 15 hingga 20 loyang yang didistribusikan ke berbagai warung dan pelanggan tetap. Setiap loyang wingko babat tersebut dibanderol dengan harga Rp30.000 untuk menjaga keterjangkauan konsumen lokal.
Keberlanjutan usaha ini didukung oleh fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dijamin oleh PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo). Slamet tercatat baru saja mengakses pinjaman modal kerja senilai Rp50 juta dengan durasi pelunasan selama tiga tahun.
"Yang penting usaha tetap jalan dan bisa bayar cicilan dengan lancar," kata Slamet, pemilik usaha wingko babat saat menjelaskan prinsip pengelolaan utang usahanya. Ia memilih tetap mengelola produksi secara mandiri bersama sang istri untuk menjaga kualitas rasa.
Branch Manager Askrindo Semarang, Gami Aji L., mengungkapkan bahwa penjaminan KUR merupakan instrumen penting bagi stabilitas UMKM. Hingga April 2026, kantor cabang Semarang telah menyalurkan penjaminan KUR total senilai Rp1,3 triliun kepada sekitar 24.000 debitur.
Berdasarkan data internal perusahaan, perolehan premi Askrindo Semarang hingga kuartal pertama 2026 mencapai Rp40,2 miliar. Nilai ini menunjukkan pertumbuhan sekitar 10 persen secara tahunan dengan angka klaim gabungan terkendali di posisi Rp10,7 miliar.