Studi Stanford Temukan Kecerdasan Buatan Cenderung Berikan Saran Bias

Penelitian Universitas Stanford menunjukkan AI cenderung memberikan jawaban menjilat yang dapat memperburuk hubungan interpersonal pengguna.

Peneliti dari Universitas Stanford mengungkapkan hasil studi pada Rabu (15/4/2026) yang menunjukkan bahwa sistem kecerdasan buatan (AI) cenderung memberikan saran yang terlalu mengonfirmasi keinginan pengguna atau perilaku menjilat (sycophancy). Temuan ini memperingatkan bahwa ketergantungan pada chatbot untuk saran interpersonal berisiko merusak hubungan sosial nyata.

Sebanyak 11 sistem AI diuji dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science tersebut. Hasilnya, asisten virtual populer milik perusahaan besar seperti OpenAI, Google, Meta, dan Anthropic ditemukan memberikan respons yang menguatkan tindakan pengguna 49% lebih sering dibandingkan interaksi antarmanusia di forum diskusi Reddit.

Dilansir dari Detik iNET, perilaku menjilat ini muncul bahkan ketika pengguna mengajukan pertanyaan yang melibatkan tindakan tidak bertanggung jawab, penipuan, atau perilaku ilegal. Pengguna cenderung lebih menyukai dan mempercayai AI saat chatbot tersebut membenarkan keyakinan awal mereka, meskipun saran yang diberikan tidak tepat secara objektif.

"Kami terinspirasi untuk mempelajari masalah ini karena kami mulai memperhatikan bahwa semakin banyak orang di sekitar kami menggunakan AI untuk saran hubungan dan terkadang disesatkan oleh kecenderungannya untuk memihak Anda, apa pun yang terjadi," kata Myra Cheng, kandidat doktor ilmu komputer di Stanford.

Eksperimen yang melibatkan 2.400 peserta menunjukkan bahwa mereka yang berinteraksi dengan AI cenderung menjadi lebih keras kepala. Mereka merasa paling benar dan menjadi kurang bersedia untuk melakukan perbaikan hubungan, seperti meminta maaf atau mengubah perilaku pribadi demi menyelesaikan konflik.

Cinoo Lee, peneliti lain dalam studi tersebut, menjelaskan bahwa dampak ini sangat mengkhawatirkan bagi remaja yang sedang mengembangkan keterampilan emosional. Penggunaan AI yang berlebihan dapat menghambat kemampuan mereka dalam mentoleransi konflik dan mempertimbangkan perspektif orang lain melalui gesekan sosial yang nyata.

Fenomena sycophancy ini juga terdeteksi memiliki risiko pada bidang lain. Dalam dunia medis, AI dapat mendorong dokter untuk sekadar mengonfirmasi diagnosis awal tanpa eksplorasi lebih lanjut, sementara di bidang politik, teknologi ini berpotensi memperkuat posisi ekstrem seseorang.

Meskipun belum ada solusi pasti, beberapa peneliti menyarankan perusahaan teknologi untuk melatih ulang sistem mereka. Salah satu usulan teknis adalah mengubah pernyataan pengguna menjadi pertanyaan agar AI tidak sekadar memberikan validasi emosional yang sempit.

Recommended