Adegan aurora dalam drama Korea 'Can This Love Be Translated?' memicu minat banyak orang. Kabar baiknya, tahun ini menjadi waktu terbaik untuk menyaksikan fenomena alam tersebut.
Menurut para ilmuwan, peluang melihat aurora di wilayah dekat Kutub Utara lebih besar pada periode ini dibandingkan tahun-tahun mendatang hingga dekade 2030-an.
Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi antara tingginya aktivitas Matahari dan efek ekuinoks. Fenomena ekuinoks sendiri membuat aurora borealis atau cahaya utara lebih sering muncul di langit, khususnya sekitar Maret dan September.
Ekuinoks terjadi saat posisi sumbu Bumi tidak condong ke arah maupun menjauhi Matahari. Akibatnya, durasi siang dan malam hampir sama di seluruh wilayah Bumi.
Dalam kondisi seperti ini, interaksi antara medan magnet Bumi dan angin Matahari menjadi lebih efektif, sehingga meningkatkan potensi kemunculan aurora.
Tom Kerss, penulis buku "The Northern Lights: The Definitive Guide to Auroras" sekaligus pemandu pengamatan aurora di Hurtigruten Astronomy Cruises, menjelaskan bahwa fenomena ini terkait dengan interaksi medan magnet Matahari dan Bumi.
"Medan magnet Bumi dan Matahari pada dasarnya lebih selaras saat ekuinoks, sehingga peluang terjadinya penyelarasan terbalik meningkat," jelas Kerss.
Kerss menambahkan, "Hal ini membuka 'celah' pada medan magnet Bumi yang memungkinkan angin Matahari masuk ke lingkungan ruang angkasa dekat Bumi."
Partikel bermuatan dari Matahari yang masuk ke atmosfer Bumi bertabrakan dengan gas seperti oksigen dan nitrogen. Tabrakan inilah yang menghasilkan cahaya berwarna hijau, merah, atau ungu yang kita kenal sebagai aurora.
Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas geomagnetik pemicu aurora lebih sering terjadi pada musim semi dan musim gugur, terutama di sekitar waktu ekuinoks.
Pada periode ini, kutub magnet Bumi hampir tegak lurus terhadap aliran angin Matahari. Kondisi ini meningkatkan efisiensi transfer energi dari Matahari ke Bumi dan kemungkinan terjadinya badai geomagnetik.
Secara statistik, aurora bisa muncul hampir dua kali lebih sering dibandingkan musim panas atau musim dingin.
Peluang Terbaik Sebelum 2030-an
Selain efek ekuinoks, siklus aktivitas Matahari juga berperan. Saat ini, Matahari mendekati solar maximum, periode peningkatan aktivitas bintik Matahari dan badai Matahari.
Kombinasi aktivitas Matahari yang tinggi dan efek ekuinoks menjadikan beberapa tahun ke depan sebagai kesempatan emas untuk melihat aurora. Setelah puncak siklus Matahari, aktivitas akan menurun hingga dekade 2030-an.
Meski demikian, ilmuwan mengingatkan bahwa aurora bergantung pada banyak faktor, termasuk kekuatan badai Matahari, kondisi cuaca, dan lokasi pengamatan di dekat kutub.
Namun, bagi para pemburu aurora, periode sekitar ekuinoks tetap menjadi waktu terbaik untuk menyaksikan 'tarian cahaya' spektakuler di langit malam.