Generasi milenial dan Gen Z mendominasi tren perjalanan mandiri atau solo travel perempuan di Indonesia berdasarkan data transaksi kuartal pertama tahun 2026. Momentum ini bertepatan dengan peringatan Hari Kartini pada Selasa, 21 April 2026, yang menunjukkan peningkatan kemandirian perempuan dalam sektor pariwisata global.
Dilansir dari Medcom, data pemesanan lintas maskapai pada aplikasi AirAsia MOVE mencatat mayoritas pelaku solo traveler perempuan berasal dari generasi milenial sebanyak 46 persen. Sementara itu, kelompok Gen Z menyumbang angka sebesar 30 persen dalam kategori perjalanan mandiri tersebut.
Selain mendominasi perjalanan tunggal, perempuan memegang peranan vital sebagai arsitek perjalanan keluarga dengan kontribusi pemesanan sebesar 50 persen. Mereka bertanggung jawab penuh dalam menentukan waktu penerbangan, alokasi anggaran, hingga pemilihan akomodasi bagi grup atau keluarga.
CEO MOVE, Nadia Omer, menjelaskan bahwa peran aktif perempuan dalam industri pariwisata saat ini merupakan bentuk nyata dari warisan emansipasi R.A Kartini. Penegasan ini disampaikan Nadia dalam keterangan tertulisnya pada momen peringatan hari nasional tersebut.
"Emansipasi hadir secara nyata melalui langkah berani dan mandiri yang perempuan ambil, termasuk cara mereka mengeksplorasi dunia. AirAsia MOVE bangga dapat mendukung seluruh perempuan untuk terus memimpin dan membuka dunia baru," ujar Nadia Omer, CEO MOVE.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa 63 persen pengguna perempuan lebih proaktif dalam memastikan kenyamanan perjalanan. Hal ini terlihat dari penambahan layanan ekstra seperti asuransi perjalanan, pemilihan kursi, hingga opsi pembatalan fleksibel saat melakukan pemesanan.
Terkait preferensi lokasi, sebanyak 35 persen perempuan memilih destinasi pantai seperti Bali dan Phuket sebagai tujuan utama untuk relaksasi. Wisata kuliner menempati posisi kedua dengan 26 persen, diikuti oleh eksplorasi wisata urban di kawasan perkotaan sebesar 12 persen.
Kecenderungan untuk merencanakan perjalanan secara terstruktur juga terlihat dari perilaku pemesanan yang dilakukan minimal 14 hari sebelum keberangkatan. Pola ini menunjukkan pertimbangan matang dalam mempersiapkan detail perjalanan guna meminimalisir risiko selama di tujuan.