PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) terus berupaya meningkatkan daya saing di era digital melalui program Transformasi TLKM 30. Program ini menjadi agenda reformasi menyeluruh untuk memperkuat fundamental bisnis perusahaan.
Transformasi TLKM 30 meliputi penataan portofolio bisnis, penguatan Good Corporate Governance (GCG), restrukturisasi anak usaha, hingga pembentukan strategic holding untuk mendorong operational excellence dan membuka potensi nilai aset TelkomGroup.
Menurut Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, tahun 2026 menjadi momentum penting untuk membuktikan implementasi strategi TLKM 30.
"TLKM 30 kami jalankan untuk membuka nilai yang lebih besar dari seluruh potensi bisnis Telkom sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan kepada negara dan pemegang saham, melalui peningkatan nilai dan dividen. Pada saat yang sama, dengan dukungan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan, transformasi ini kami dorong untuk memberikan dampak positif bagi perekonomian dan masyarakat melalui layanan konektivitas digital yang semakin merata dan berkualitas," kata Dian, dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3/2026).
Pernyataan ini disampaikan dalam agenda TelkomGroup Business Update di Jakarta. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Direktur Legal & Compliance Telkom Andy Kelana, Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba, Direktur IT Digital Telkom Faizal Rochmad Djoemadi, serta Direktur Human Capital Management Willy Saelan.
Dian menjelaskan bahwa TLKM 30 dirancang sebagai strategi transformasi jangka menengah hingga tahun 2030. Telkom berupaya meningkatkan kinerja dan memperkuat posisinya sebagai enabler ekosistem digital yang mampu bersaing secara global melalui strategi ini.
Telkom melakukan penataan portofolio bisnis secara terarah serta memperkuat praktik tata kelola perusahaan agar setiap lini bisnis dapat berkembang optimal dan menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi perusahaan maupun pemangku kepentingan.
Transformasi TLKM 30 juga selaras dengan agenda total governance reset pada pengelolaan BUMN yang didorong oleh misi Danantara. Agenda ini menekankan penguatan praktik tata kelola yang transparan, prudent, serta disiplin dalam pengelolaan aset perusahaan.
Upaya tersebut meliputi normalisasi dan peningkatan kualitas aset, praktik pengeluaran yang akuntabel, serta penyelarasan pencatatan keuangan agar laporan perusahaan semakin akurat dan wajar.
Dalam implementasinya, Telkom mendorong peningkatan operational excellence melalui penguatan disiplin organisasi, perbaikan proses bisnis, serta pengelolaan alokasi modal yang lebih efisien. Transformasi ini juga didukung perubahan budaya perusahaan yang menekankan kolaborasi, akuntabilitas, serta orientasi pada kinerja dan penciptaan nilai.
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mengakselerasi efisiensi pengelolaan sumber daya sehingga fundamental bisnis Telkom semakin solid, terutama di tengah tantangan ketidakpastian global dan kebutuhan akan kemandirian infrastruktur digital.
Sebagai perusahaan yang dual listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan New York Stock Exchange (NYSE), Telkom juga memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku baik di Indonesia maupun di Amerika Serikat.
Salah satu progres transformasi yang mulai terlihat sejak implementasi TLKM 30 pada pertengahan tahun lalu adalah pembentukan entitas FiberCo melalui spin-off sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau InfraNexia.
Langkah ini menjadi tahap awal dalam upaya unlocking value pada bisnis infrastruktur digital TelkomGroup. InfraNexia akan berfokus mengembangkan bisnis fiber sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan investasi, serta membuka peluang network sharing dan kemitraan strategis.
Ke depan, entitas tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu engine of growth baru bagi TelkomGroup.
Selain FiberCo, Telkom juga menyiapkan langkah strategis untuk membuka potensi nilai dari aset infrastruktur lainnya, termasuk bisnis data center dan tower melalui NeutraDC dan Mitratel.
Sebagai bagian dari transformasi, Telkom juga menjalankan streamlining melalui penataan portofolio entitas usaha di lingkup TelkomGroup. Perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai entitas anak usaha guna memastikan fokus pada core business di sektor telekomunikasi dan digital. Langkah ini juga bertujuan menciptakan struktur organisasi yang lebih ramping dan efisien.
Implementasi awal dari upaya streamlining tersebut adalah penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat atau Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) oleh PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra) menuju divestasi penuh atas PT Administrasi Medika (AdMedika) beserta entitas anak usahanya TelkoMedika.
Perusahaan tersebut bergerak di bidang third party administrator pada sektor kesehatan dan divestasi ini menjadi bagian dari penataan portofolio bisnis non-core di TelkomGroup.
Pada saat yang sama, Telkom juga memperkuat perannya sebagai strategic holding. Dalam model ini, Telkom berfokus pada fungsi value creation dan governance oversight, sementara operasional bisnis dijalankan oleh entitas operating company yang menjadi penggerak utama pada masing-masing lini usaha.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan TelkomGroup akan memperkuat struktur bisnis melalui operating company yang berfokus pada empat pilar utama sebagai mesin pertumbuhan perusahaan ke depan, yakni B2C, B2B ICT, Digital Infrastructure, serta International Business.
Melalui struktur tersebut, Telkom berupaya memastikan setiap lini bisnis memiliki fokus yang lebih tajam sekaligus mampu bergerak lebih lincah dalam mengoptimalkan potensi ekosistem digital di Indonesia.